Sepasang suami istri hidup di suatu desa dalam rumah yang sangat sederhana sekali. Dengan ditemani dengan dua orang putri yang membuat hari - hari mereka berdua begitu bahagia. Beberapa tahun kemudian, kedua putri tumbuh besar dan semakin dewasa yang kemudian menikah. Meski begitu, pernikahan kedua putrinya tidak lantas membuat mereka kesepian. Mereka tetap hidup bahagia. Apalagi ketika mereka telah dikaruniai cucu - cucu yang sangat lucu, mereka sangat terhibur.
Ditengah - tengah kebahagiaan itu, muncullah sebuah keinginan dari suami atas persetujuan istri. Mereka ingin memelihara seekor sapi. Hal ini demi mempersiapkan masa depan mereka, masa tua mereka. Rupanya rezeki telah memihak pada mereka berdua. Sapi tersebut beranak pinak sehingga sepasang suami istri ini mampu merenovasi rumah mereka. Yach... buat ukuran di desa, kini rumah mereka tak kalah sama tetangga.
Siang malam, sang suami telaten merawat sapi. Siang hari, sehabis kerja sebagai kuli, ia tak lelah carikan rumput buat si sapi. Hujan panas tak pernah ia rasakan. Malam hari dia selalu menjaga si sapi dari orang - orang yang memiliki tangan panjang. Semua itu, tak lain supaya masa tuanya terjamin karena dia telah memiliki tabungan masa depan.
Hari berganti hari, minggu telah berganti minggu, bulan pun terus berganti. Sang suami merasa sangat lelah, ia merasa kerja keras sendiri, seakan istri bahkan anak - anaknya tak ada yang peduli atas kerja kerasnya. Kelelahan itu yang kemudian membuat sang suami sering uring - uringan, marah tanpa sebab, terkadang juga ngomel yang tak jelas. Istri dan anak - anaknya pun di buat makin bingung, karena semuanya tak ada cocok dimata sang suami.
Suatu ketika, sang suami yang sudah sangat tua, sangat lelah, jatuh tersungkur di sawah. Karena itu dia segera dilarikan ke Rumah Sakit. Rupanya, sang Bapak terkena stroke, pembuluh darah pecah yang kemudian menyebar ke otak. Alhasil, sang Bapak lumpuh dan tak bisa bicara. Dan lebih menyedihkkan lagi, Sapi yang dia perjuangkan kehidupannya harus dijual untuk pelunasan biaya Rumah Sakit.
Wahai sobat...tak ada yang salah dengan tabungan masa depan. Tapi yang terpenting adalah management diri, manata diri, menata pikiran dan perasaan.. karena sumber penyakit yang utama adalah faktor pikiran kita.
So, jangan sampe impian kita, tabungan kita ...kita hancurkan, kita habiskan sendiri karena salah dalam management diri.
Mudah - mudahan bermanfaat
CERITA_HATI, iyup Blog ini bertujuan untuk mengeluarkan uneg-uneg, biar tidak jadi kuman dalam perut. Perut kembung jadi plong, dada sakit bisa terobati dengan menulis, appa iya??? Dah pokoknya untuk teman-teman yang bertemu dengan blog ini, jangan lupa komentar ya, kita saling support. Karena saya yakin, temen-temen punya uneg-uneg juga
Jumat, 09 Februari 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa
Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...
-
Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri b...
-
https://id.pngtree.com "Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jad...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar