Jumat, 29 Agustus 2025

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

 



Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manis di telinga, tapi getir di hati. Apalagi bagi guru di sekolah swasta kecil, yang jangankan tanda jasa, gaji bulanan saja kadang masih kalah tipis sama uang jajan anak-anak sultan di sekolah sebelah.

Tapi ternyata, pekerjaan guru bukan cuma sekadar mengajar. Ada satu pekerjaan tambahan yang entah kenapa selalu menempel, yaitu: administrasi. Dari RPP, silabus, jurnal mengajar, sampai laporan kegiatan yang entah siapa yang benar-benar baca. Semua itu harus selesai, harus rapi, dan harus siap dipamerkan setiap kali ada inspeksi mendadak.

Kalau di sekolah negeri, setidaknya ada staf tata usaha atau tenaga administrasi yang bisa jadi tameng. Nah, di sekolah swasta kecil? Jangan harap. Semua diborong guru. Mau nyusun materi? Guru. Mau jadi bendahara kegiatan? Guru. Mau ngurus surat keterangan pindah murid? Tetap guru. Kalau bisa, sekolah sekalian nyuruh guru jadi satpam, tukang kebun, sampai tim konsumsi pas ada acara.

Kalau gak gitu, terjadilah jabatan rangkap, ya jadi guru ya jadi staf tata usaha. Ada juga, jadi guru jadi bendahara juga. Ada lagi, jadi guru, jadi operator juga. Bahkan, pekerjaan sekolah harus jadi pekerjaan rumah, saking banyaknya tugas, dan waktu di sekolah gak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang wow itu.

Padahal, mari kita jujur sebentar. Tugas utama guru itu mengajar. Tapi energi mereka sering habis terkuras untuk hal-hal teknis yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain. Bayangkan, habis 2 jam ngajarin matematika sambil mikirin murid yang masih bingung pecahan, guru harus lembur malamnya cuma buat ngetik laporan bulanan yang tebalnya bisa ngalahin skripsi mahasiswa S1.

Dan jangan salah, laporan itu biasanya hanya akan berakhir di tumpukan map di lemari besi kepala sekolah. Setiap kali ada pengawas datang, map itu dipamerkan seperti harta karun. Setelah itu, ditutup lagi. Guru? Ya balik lagi ke kelas dengan wajah kusut karena semalam kurang tidur.

Di titik ini, guru jadi seperti manusia serba bisa atau lebih tepatnya serba disuruh. Seringkali bukan karena mereka mau, tapi karena kondisi sekolah swasta kecil memang serba terbatas. Anggaran nggak cukup untuk menggaji tenaga administrasi, akhirnya guru yang jadi korban.

Kalau ada yang tanya, “Lho, bukannya sudah ada teknologi digital, bisa pakai aplikasi administrasi biar lebih gampang?” Jawabannya: iya, bisa. Tapi seringkali fasilitasnya nggak memadai. Laptop sekolah bisa jadi masih pakai Windows zaman Majapahit, koneksi internet sering putus nyambung kayak hubungan LDR. Jadi jangan heran kalau akhirnya banyak administrasi tetap ditulis manual.

Guru jadi kehilangan fokus pada yang seharusnya mendidik. Karena sibuk ngurus tumpukan berkas, waktu mereka untuk menyiapkan materi kreatif atau mendampingi murid secara personal malah terpangkas. Murid yang nakal butuh bimbingan? Ditunda, karena guru lagi sibuk bikin laporan kegiatan. Murid yang kesulitan memahami pelajaran? Terkadang terlewat, karena guru harus nyicil input nilai di excel biar cepat selesai.

Ironis, bukan? Pahlawan tanpa tanda jasa yang katanya tugas utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru sering lebih sibuk mencerdaskan format administrasi.

Mungkin sudah saatnya pemerintah (atau setidaknya yayasan swasta) sadar, bahwa administrasi berlebihan adalah beban yang membuat guru gagal jadi guru sepenuhnya. Kalau memang guru harus tetap menulis laporan, ya sederhanakan. Kalau bisa diserahkan ke tenaga administrasi, rekrutlah. Kalau anggaran nggak ada, ya minimal jangan menuntut berlebihan.

Karena kalau terus begini, jangan salahkan kalau banyak guru lebih lihai bikin laporan daripada bikin murid paham pelajaran. Dan itu, sayangnya, bukan kemenangan bagi pendidikan kita, melainkan kekalahan kecil yang terus berulang.

Tulisan ini, mungkin bisa menjadi koreksi bersama. Bagaimana pun juga, pendidikan merupakan factor keberhasilan atau kesuksesan sebuah Negara. Pendidikan merupakan penentu kondisi masa depan. Kalau dari hal kecil seperti ini dibiarkan, terus apa yang diharapkan dari pendidikan itu?

Guru memang sudah disejahterakan dengan berbagai tunjangan. Bukan mengeluh, tapi realitas. Semakin besar nominal tunjangan yang diberikan, semakin besar pula tuntutan yang diminta. Ah entahlah! Tapi sekali lagi, tugas guru perlu dikuatkan lagi oleh banyak pihak. Tentunya pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap kebijakan pendidikan.

Salam hormat, dari guru swasta di Lumajang

Kamis, 21 Agustus 2025

Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu

 

Berbicara dunia pendidikan, orang sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan. Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya, aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan anak SMA plus bonus sabar level malaikat.

Madrasah swasta ini sangatlah unik. Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah, di sinilah kata “profesional” diuji.

Baiklah, Penulis ajak ngomongin tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid. Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut menguleni madrasah itu dari titik nol.

Sayangnya, ada dua tipe guru di madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan, sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.

Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan, tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.

Padahal, madrasah swasta butuh lebih banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c, tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi sejarah.

Menjadi guru di madrasah swasta memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang. Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.

Dan siapa tahu, kelak ketika madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari perjuangan itu.”

Karena guru sejati itu bukan numpang makan, tapi numpang berjuang.

Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?

Rabu, 20 Agustus 2025

Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional

 

Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang

Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang sering lolos dari kesadaran kita.

Pertama, lomba di sekolah mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.

Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?

Ketiga, lomba di sekolah merupakan latihan mental. Gini deh, coba kalian  bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk, disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.

Dan yang tak kalah penting, lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung, semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius yang tugasnya nagih tugas.

Jadi, kalau ada orang yang menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru! Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas, kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa, bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.

Lomba masukin sedotan ke dalam botol memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap ketawa.

 


Biodata Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha hihi


Guru Itu Beban Negara, DPR Itu Bebek Bertelur Emas

 

https://id.pngtree.com

"Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang. Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.

Lucunya, guru yang digaji pas-pasan dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun kadang hasil copy paste.

Kalau dihitung, 3 juta per hari berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat 3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang "ini beban hidup".

Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup, dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.

Jadi, kalau negara masih tega menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.

Demikian opini receh ini, semoga bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.

Senin, 18 Agustus 2025

Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom

 

Sumber Gambar : https://id.pngtree.com

Ada yang bilang, sekolah zaman dulu itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang, sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys. Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain halus, supaya gak retak.

Pendidikan memang kayak tren fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop, proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana, Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada cengar-cengir.

1.      Metode Belajar

Dari Ceramah ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom mulai unstable pas lagi presentasi.

2.      Teknologi

Dari Kapur Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil, hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas lagi cari referensi tugas.

3.      Hubungan Guru-Murid

Dari Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug, apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang, hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati, terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.

4.      Tantangan

Dari Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal, sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan. Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang hoaks.

Nah itu dalamnya pendidikan yang bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka. Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini, sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk melangkah untuk masa depan lebih baik.


Minggu, 06 Oktober 2024

KEINGINAN JELANG TIDUR

 




Jangan tanya ya, kenapa? Karena mata sebenarnya tinggal 5 Watt tapi keinginan masih 100 persen. 

Dan entah dari mana, saat ini butuh sekali 3 barang itu. 

Bismillah, Allohumma sholli Aala sayyidina Muhammad, kuasa Alloh SWT, Insyaallah atas ijinnya, aku besok akan dapat kabar gembira dan dapat apa yang aku inginkan, aamiin 

Sabtu, 05 Maret 2022

SYAITHON

 "Tugas syaithon adalah menggoda manusia hingga ia tergelincir kepada jalan-jalan yang tidak diridhoi oleh Alloh SWT. Nah, kalau tugas syaithon sekedar menggoda sementara pelaksana dari godaan syaithon adalah manusia. Maka manusia bisa disebut adalah BAPAKnya syaithon." Ustadz Danu

Jleb banget bukan? ternyata jika kita tergoda dan melaksanakan godaan syaithon, maka kita lebih parah dari syaithon. 

Semoga kita dilindungi dari godaan syaithon ya ... Aamiin

Jumat, 18 Februari 2022

SALAH PILIH

 


Salah pilih? Pernahkah Anda merasa salah pilih? Sering ... Hahaha. Dan merasa salah pilih biasanya akan muncul ketika hati sedang tidak sehat ya ...

Banyak kebaikan yang akan kita temui jika benar benar kita mencari kebaikan. Namun sebaliknya, jika yang diamati adalah yang tidak baik maka itulah yang didapat. Dan akhirnya, jadi serasa salah pilih. 

Jadi fokus pada kebaikan, supaya

Rabu, 16 Februari 2022

ALASAN

 

Foto : Depan masjid KH. Hamid Pasuruan

Foto diambil setelah kegiatan silaturahmi ke rumah salah satu keluarga besar yang kami anggap kaya dari segi finansial. Ternyata, iya emang mereka sangat kaya. Alhamdulillah, semoga Rizqi mereka senantiasa melimpah dan berkah. Aamiin

Terlepas dari kekayaan mereka, ada alasan yang kuat bagi kami untuk hadir di tengah-tengah mereka. Yang jika diukur jarak, Lumajang Pasuruan lumayan tidak dekat. Apalagi sepulang dari sana, badan greges mulai hadir dalam diri kami. Ada alasan yang kuat, ada tujuan mulia di dalamnya. Hingga semangat kami berangkat.

Alasan tidak bisa dilepas dari kehidupan kita bahkan siapapun juga. Dengan alasan, kita mampu bangkit semangat. Dengan alasan, bisa juga kita jauh dari semangat. Bahkan dengan alasan pula, manusia akan menjadi terhormat, mulia. Dengan alasan, manusia bisa menjadi tidak mulia.

Alasan akan setia dalam mendampingi kita menjalani alur kehidupan. Hanya kita lah yang harus mampu, menempatkan alasan di tempat yang tepat hingga alasan itu membuahkan kebaikan buat kita dan orang sekitar.

Selamat berkarya

Minggu, 16 Januari 2022

Penantian

Menanti kabar gembira yang diharapkan bagaikan menanti kabar dari sang kekasih yang lama tak bersua

Rabu, 08 September 2021

Rabu, 8 September 2021

Sedikit catatan untuk pengingat. Lain waktu akan diulas lebih lama disini

catatan hari ini :

1. Keegoan yang menutup rasa kemanusiaan. Tidak memanusiakan manusia. Dengan membawa kata umik (ibu seorang Bu Nyai) maka semua apa kata BOS. Mengganti dengan waktu konfirmasi satu menit. TAKTIK! (USTADZAH ANA)

2. Kenyataan belum sesuai harapan. Berharap bisa mengantar pulang anak-anak tepat waktu ternyata karet hingga dua jam setengah... Oh! (ANANG)

3. Berbincang sekedar untuk menjawab. Sambil menunggu jemputan yang dinanti. Bincang-bincang sekaligus taaruf ternyata sekedar di mulut saja. Diluar sana, engkau marah...Ah!(DIMAS)

Minggu, 05 September 2021

Sendiri-sendiri

Hari ini, 5 September 2021. Ada rasa yang tak bisa dipendam. Ada rasa yang yang yang tak bisa diam. "Kewajiban suami adalah menafkahi keluarga, jika tidak mampu maka lebih baik hidup sendiri-sendiri", kalimat yang terucap dari lisan seorang istri yang telah berusaha bersikap sabar. Kesabaran yang ternyata tak bisa bertahan karena tuntutan hidup yang kian meronta. 

Tuntutan hidup yang kian meronta seakan menutup rapat tabir bagaimana dengan hak seorang anak. Iya, buah hati kami. Dia punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah maupun bundanya. Tapi, iya sekali lagi ... Istri bukanlah suatu makhluk yang sempurna. Dalam arti, dia menjadi seorang ibu, istri, wanita karir yang kemudian juga menjadi tulang punggung keluarga. Jika memang demikian, sangatlah tidak ringan tugas nya. Jika demikian, lalu dimanakah peran seorang suami? Jika demikian yang terjadi, salahkah seorang istri menuntut cerai kepada suaminya. Jika demikian itu, salahkah seorang Bunda ingin mendidik putra semata wayangnya seorang diri?

Jika ditanya, adakah rasa cinta sama suami? Pastinya ada, tapi hitungannya sangat kecil dibandingkan dengan tuntutan hidup. Jikalau suami tak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, lalu dimanakah kebahagiaan sang istri. Istri bahagia akan ada anak yang HEBAT.

Salam dari aku, istri yang hari ini berani berucap dengan mata berurai air mata 

Senin, 23 Agustus 2021

PEMBINA ALA ANDA

Bu, Jika Anda adalah pembina dan kami adalah binaan. Lebih tepatnya, saya adalah binaan Anda. Maka binalah saya tanpa harus emosi. Binalah saya dengan berhusnudzon. Saya adalah orang baru di bidang saya. Saya butuh bimbingan bukan amarah. Saya butuh support bukan ungkitan kesalahan yang lalu. Saya baru menjabat  secara PJS 3 bulan. Dan resmi selama 6 bulan. Kalimat yang Anda ucapkan seperti saya sudah menjabat bertahun-tahun. Mana peran Anda sebagai pembina? 

Sebagai pembina, Anda sendiri yang menyebut dalam rapat kemarin, sabtu 21 Agustus 2021. Sadar atau tidak, itulah kata yang menancap di otak saya. Karena itu pula mungkin yang menjadi alasan, Anda tidak mau masuk ke ruangan kantor. Iya, sebagai pembina akan datang jika diundang dan diperlukan. Perlu diingat, secara struktural Anda adalah bawahan saya. Dan Anda dibayar karena kerja Anda. Bukan sebagai penasehat. Kerja! sudah tentu harus masuk kantor, meski sekedar bersapa dengan teman sejawat. Sekali lagi, Anda dibayar karena kerja Anda. Jika bekerja tidak sesuai dengan aturan yang ada, silahkan bebas bersikap. Tapi Demi Alloh ... saya tidak Ridho dengan sikap Anda. Sekali lagi sebagai pimpinan, saya tidak Ridho!

Iya, tempat bekerja Anda. Tempat Anda mendapatkan rizqi adalah milik Mertua Anda. Tapi bukan berarti ANda bersikap semaunya sendiri. Its oke, dimata Anda saya adalah orang yang banyak berhutang budi kepada Anda. Semua jabatan dan rizki yang berlimpah terdapat peran Anda. Iya, ada tanda tangan yang memang menunjang semuanya. Tapi saya pun mendapatkan tanda tangan Anda  dengan keringat yang deras. Air mata yang jarang Anda pedulikan. Sering hati tercabik karena kalimat Anda yang pedas. 

Sekarang, saya adalah pimpinan Anda. Maka jika saya diam bukan berarti saya ridho. Semuanya ada balasan. Saya tak berhak membalas sikap Anda. Hanya Alloh SWT yang akan menangani Anda. Oke ... Terima kasih!

Halo para reader! Rangkaian kalimat diatas merupakan curhatan seorang pemimpin baru. Pemimpin baru hasil dari perpecahan senior yang notabene para pembesar agamis dan berdarah biru. Ini merupakan luapan emosi yang tak mampu tertuang di dunia nyata. Karena sadar betul, si curhater adalah seorang plegmatis. CINTA DAMAI.

Rabu, 11 Agustus 2021

Kamis, 12 Agustus 2021

Menjadi seorang pemimpin tak gampang. Mengendalikan patner bukanlah tugas seorang pemimpin. Pemimpin hanyalah menyatukan suara, pendapat sehingga menjadi tim yang solid. Jika ada patner yang suara tak satu. Sometime mereka bersuara A, lain waktu mereka bersuara B tentu sangat menyiksa batin pemimpin. Dan pastinya apa yang telah tersampai belum menyatu dan terpatri dalam diri mereka, sang patner. Maka berpasrahlah dan serahkan patner Anda kepada Alloh SWT. Sabar dan teruslah perbanyak sholat. Sampaikan kepada Alloh SWT apa yang menjadi gundah gulana di anatara hubunganmu dengan mereka. Alloh Maha Melihat. Maha Mengetahui. Tetaplah semangat ... Kembalikan pada tujuan awal bahwa engkau berjuang untuk anak-anak, generasi penerus islam, generasi penerus bangsa.

Selasa, 15 Juni 2021

Hati yang tak sehat

Hati yang tak sehat maka semua yang ada di depannya akan terlihat tidak baik. Hati yang tak sehat akan menghasilkan kata kata yang tidak baik pula. Sehingga tak jarang orang lain akan merasa tersakiti oleh seseorang yang memiliki hati tak sehat. 

Orang lain yang tersakiti karena ucapan lesan tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan bisa jadi kata kata yang dia dengar akan membuat luka yang amat dalam.  Luka yang akan dia bawa hingga akhirnya tidak mudah memaafkan. 

Maka jaga hati kita, bahagiakan hati terlebih dahulu. Setelah itu bercengkrama dengan orang lain ...

Nasehat untuk saya pribadi ... Salam santun


Senin, 31 Mei 2021

BERHARAP

Berharap sering kali salah tempat. Kali ini pun, saat pikiran full dan dominan mikir si dia yang always mendampingi hidupku, eh malah sepertinya dia cuek banget sama aku. Ah, suamiku ... Aku belum paham bahasa cintamu

Minggu, 30 Mei 2021

BAGI BAGI

Bagi bagi ... Ayuk kita bagi bagi! Eits, bukan bagi bagi kue ya ... Melainkan bagi bagi tugas. Dengan berbagi tugas maka tugas akan lebih ringan. Dan pastinya lebih teratur dan bisa selesai tepat waktu. Tentu saja, dengan selalu memperhatikan tupoksi masing-masing. 

Setelah itu, ajak teman atau pantner kerja untuk bisa melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. 

Rabu, 19 Mei 2021

JIWA SOSIAL

Idul Fitri 1442 H, hari ini merupakan hari ketujuh berlebaran. Meski begitu, tak menyurutkan langkah kami untuk terus bersilaturrohmi ke sanak saudara dan teman. Entah apa sebab, lebaran kali ini serasa semangat sekali untuk unjung-unjung. Yang pasti ketika berada di jalan, berbincang santai dan tertawa lepas benar-benar melepas segala pikiran yang lumayan mengganjal. Bisa dibilang, silaturrohim kali ini benar-benar refreshing yang mantap.

Dari satu rumah ke rumah lain, dari topik satu ke topik lain, ada satu topik pembicaraan yang mengena sekali. Hingga kepikiran sampai rumah. Dan tak sabar menuliskannya di blog ini. Yakni tentang jiwa sosial salah satu saudara kami. Iya, dari ceritanya, ku simpulkan dia adalah aktivis sosial. Bagaimana tidak, pagi sebagai kepala PAUD. Sore hari mengajar mengaji di rumahnya. Dan setiap tiga bulan sekali ada rutinitas donor darah. Enjoy... itu yang aku amati. Dia menjalani hidup dengan nikmat. Semuanya berjalan tanpa harus perhitungan dengan angka rupiah. Sepertinya, itulah salah satu sebab rezekinya mengalir bak air sungai.

Tak dipungkiri, sepasang suami istri yang ada di cerita tersebut memang berasal dari keluarga berada. Berasal dari keluarga yang secara ekonomi sudah mapan. Tapi kembali lagi, bermodal sebesar apapun jika pemegang tak mampu mengendalikannya maka tak akan pernah bertambah. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Rezki memang sudah tertakar. Namun tak ada yang tahu berapa takaran rezeki untuk kita. Yang perlu diketahui adalah semakin banyak mengeluarkan untuk membahagiakan orang lain maka bersamaan itu pula rezeki akan masuk ke diri dan keluarga kita.

Oleh karena itu, berbagi itu sangat penting. Berbagi tidak harus bentuk rupiah. Apapun yang bisa kita berikan, maka bagikan. Dan terpenting lagi, keikhlasan tanpa peduli dengan rupiah, sangat berdampak buat diri kita. Tak hanya itu, semua kebaikan yang kita tabur maka kebaikan pula yang akan kita panen.

Yuk selamat idul fitri 1442 H berarti semangat untuk berbagi. Salam Minal Aidin Wal Faizin, Taqobbalallohu Minna Waminkum Taqobbal Ya Kariim


Jumat, 14 Mei 2021

KEMENANGAN 1442 H

 KEMENANGAN 1442 H

Sebulan lamanya Alloh SWT menguji dengan kekurangan ekonomi. Suami tak memberi uang belanja selama 29 hari. Sekali memberi uang belanja dan itu pun sebanyak 20 ribu. Keluarga merupakan keluarga besar. Ada orang tua kandung dan keluarga kecil kami. Alhamdulillah, kekuatan dan kekayaan Alloh SWT telah terbukti pada romadhan tahun ini. Kami mampu melewati semuanya, dan Bissmillah semoga Alloh berkenan memberi kemampuan pada kesempatan berikutnya

Selasa, 20 April 2021

Lelah

Ketika lelah dengan beraneka perjuangan, akan sangat melelahkan dan bertambah sakit rasanya jika ada yang menyalahkan diri. Apalagi yang menyalahkan adalah pasangan sendiri. Dan perjuangan yang telah terajut buat pasangan tercinta. Seakan di tak menghargai lelah dan hati ini.

Disini setia dan cinta buat sang buah hati teruji. Andai ini hati bukan buatan Alloh SWT maka berpisah adalah pilihan terbaik. Buat apa mempertahankan dia yang tidak pernah menghargai jerih payah kita selama ini.

Senin, 19 April 2021

BERBAKTI

BERBAKTI




Berbakti, sebuah kata yang bagi saya adalah sesuatu yang penuh dengan juang. Misal saja berbakti pada orang tua, tentu di tengah jalan akan ditemukan perbedaan di antara keduanya. Yang terkadang, perbedaan menumbuhkan ketidak akuran antara keduanya. 

Belum lagi menghadapi orang tua yang sudah renta. Dengan kondisi yang renta bahkan sakit pula. Ah, perjuangan 45 banget lho. Bisa jadi, orang yang sangat tua kondisi sakit, akan sangat membuat kita menaruh belas kasih yang teramat dalam. Karena dalam kondisi yang seperti itu, beliau sangat ikhlas bahkan tak terdengar keluhan dari lesan keriputnya. Kondisi seperti itu, justru membuat anak akan selalu berbakti dengan legowo(bahasa jawa, ikhlas). Bisa jadi berbakti si anak akan diberikan dalam wujud yang sangat baik. Dan kondisi ini mungkin bukan masuk kategori perjuangan 45. Beda lagi dengan, yang kita rawat adalah sosok yang sangat mulia. dengan renta, sakitnya, dia selalu mengeluh. Bisa jadi, anak yang merawat tidak pernah dianggap atau mungkin selalu dibanding-bandingkan. Nah, kalau seperti kasus kedua, maka ibarat perjuangan 45. Bahkan banget sekali ... hehehe.

Yang jelas, mari kita berdoa bersama, semoga kita senantiasa diberi kesehatan hingga tua. Kalau sakitpun tidak merepotkan orang lain dan kita menjadi orang tua yang benar-benar bijak dalam menghadapi anak-anak kita. Karena anak-anak adalah anak kita. Kita mengenal mereka sejak masih merah. Apa yang terjadi pada anak kita sekarang adalah hasil didikan kita. 

Ya Alloh... Anugerahkan kepada kami, anak-anak yang sholeh sholehah ... Aamiin

Minggu, 18 April 2021

Berbuat baiklah

Berbuat baiklah pada setiap orang. Meski orang orang di sekitarnu membenci dia. Jangan pernah ikut ikutan benci. Karena kamu tidak tahu, mungkin dari dialah jalan Rizqi mu. Mungkin dari dialah, kebaikan kebaikan mu tercatat sangat mulia di atas sana.

Silahkan orang lain benci dia, tapi tidak dengan kita. Cintai orang lain selayaknya engkau mencintai diri sendiri.


Selasa, 13 April 2021

PUASA I NIZAM

Selasa, 13 April 2021 merupakan hari pertama umat islam di Indonesia melakukan ibadah puasa Romadhan 1442 H. Tak terkecuali kami dan ananda Nizam yang saat ini berusia 9 tahun dan sedang duduk di kelas dua MI Miftahul Ulum Pulosari Lumajang. Tak jauh beda dengan tahun kemarin. Prestasi buat kami sebagai orang tua, Ananda Nizam di ramadhan tahun kemarin hampir penuh melaksanakan puasa 30 hari. Hampir penuh karena hanya satu hari dia tidak melaksanakan puasa wajib itu. Dengan semangat yang berkobar, tahun ini dengan tekad kuatnya, dia berniat berpuasa full 30 hari, InsyaAlloh. 

Namun yang menjadi fokus kali ini adalah catatan dia hari ke hari dalam menjalani ibadah suci Ramadhan 1442 H. Kali ini catatan pertama di hari pertama bulan ramadhan 1442 H adalah sebagai berikut :




Rabu, 07 April 2021

Kebersamaan yang ...

Kebersamaan yang ... Kebersamaan memang indah. Tapi saat ini seakan hambar. Sebabnya jelas banget sih. Gegara nenek yang sakit hingga semua anak dan cucu hampir setiap hari berkumpul di rumah. Bukan tidak suka, bukan tidak mau terima ... Tapi, iya gitu lah, karena setiap hari hingga privasi seakan terampas. Seakan tak ada waktu untuk urusan pribadi. 

Padahal, iya meski bukan jam kerja, ada juga sih kerjaan yang harus digarap di rumah. Terkadang bukan kerjaan, tapi sekedar ingin ngobrol bareng pasangan aja jadi gak sempat. Iya, jadinya ingin banget punya privasi.

Ah, padahal baru kali ini juga nenek sakit agak lama. Kurang syukur dan kurang sabar ya ... Ya Alloh, paringi rasa syukur dan sabar yang luas pada diri ini. Aamiin

Selasa, 06 April 2021

PROFESIONAL GERBANG

Profesional! Menurut Anda, apa arti dari profesional? Hmmm, Iya... Pasti penjelasan yang amat sangat panjang dan bisa jadi penjelasan yang rumit bagi sebagian orang. Simpel saja, profesional memiliki arti bekerja atau menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada. Jika bekerja di kantor, iya bekerja sesuai tugas dan aturan yang ada di kantor. Jika di sekolah, iya jadilah pegawai sekolah yang bekerja sesuai tugas dan aturan sekolah. 

Lebih spesifik lagi, saya menyebutnya dengan profesional gerbang. Dua kata yang terinspirasi ketika memasuki gerbang sekolah. Iya, saat ini  syukur Alhamdulillah masih dipercaya untuk mengamalkan ilmu di salah satu MTs di Lumajang Jawa Timur. Kembali lagi pada pokok bahasan. Jadi, saat memasuki gerbang sekolah pagi hari terbersit dalam pikiran bahwa di gerbang inilah batas antara kehidupan seorang pengabdi ilmu dengan pengabdi rumah tangga. Bisa juga, di gerbang itu merupakan batas antara pengabdi negara dengan pengabdi orang tua. Iya, bisa dengan sejenis lainnya. Intinya, gerbang merupakan tempat dimana kita dituntut mampu menaruh semua urusan urusan yang ada di rumah atau tempat tinggal. Di gerbang, saatnya menyambut amanah akan tugas tugas dari sekolah. 

Sehebat apapun orangnya. Setinggi apapun keilmuannya. Jika dia adalah pekerja atau pengabdi yang mencampuradukkan semua urusan, maka dijamin seratus persen, urusan tidak akan kelar dengan sempurna atau mungkin bernilai 90. Dan itulah makna yang tersirat untuk keprofesionalitas. Bisa jadi, meletakkan HP saat membuat perangkat mengajar adalah profesional. Bisa jadi, meletakkan HP saat mengajar di kelas. Tentu saja, ketika HP bukan sebagai media. Atau mungkin Profesionalitas merupakan senyum diatas semua masalah keluarga kita. Bisa jadi profesional ketika diri mampu menutup kesedihan diri ketika berbicara atau pun mengajar anak-anak. Atau mungkin, profesional ketika diri mampu mengatur waktu antara berdagang dengan mengajar atau mungkin profesional dalam memilah urusan pribadi dengan pengabdian.

Profesionalitas memang tak hanya berputar pada cara kita bekerja atau kinerja. Akan tetapi profesional merupakan sebuah ketrampilan bagaimana kemampuan diri dalam menata setiap emosi atau perasaan atau tindakan guna menghasilkan atau menuju hasil yang maksimal dan barokah.

So, belajar dan terus belajar guna mendapatkan gelar profesional adalah terbaik.

Senin, 05 April 2021

RASA APA INI

Iya, hatiku bertanya dalam keraguan. Adakah dia yang dulu pernah menjadi muridku, yang saat ini juga masih berstatus sebagai santri pengurus, telah terucap kalimat. Kalimat yang seakan menantang dan meragukan kesungguhan dari gurunya. 

Kesalahan memang tidak bisa dielakkan. Iya, gurumu minta toleransimu nak! Kesalahan memang telah terjadi. Itupun tanpa unsur kesengajaan. Gurumu juga manusia biasa, penuh dengan kekurangan. Kini, statusmu sudah sama dengan gurumu, bahkan mungkin lebih tinggi kamu, nak! Kamu adalah santri pengurus, yang setiap harinya selalu mengurus anak-anak santri kecil. Dan siapapun tak meragukan lagi, pekerjaan seperti itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Ah, gurumu pun terlalu sensitif ya ... Semoga engkau selalu diberi kemuliaan dan kebahagiaan oleh Alloh SWT, Aamiin.

Rasa Apa Ini! Jawabannya, rasa sebagai manusia yang belum mampu ikhlas 

KAKIKU KUAT

Indah hari ini kurasa. Sebuah keajaiban hadir di tengah-tengah perjalanan kaki sekitar 1,5 km. Tidak jauh memang, tapi bagi orang lain mungkin jarak itu adalah jarak yang melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki. Tak terkecuali aku. 

Dengan niatan hati berbenah atas kesalahan yang juga bingung yang mana. Meraih hati dengan harapan, hubungan semakin baik dan mungkin lebih tepatnya semakin membaik. Hubungan yang renggang setelah pergantian jabatan. Iya, jabatan. Jabatan yang bagiku merupakan amanah yang luar biasa besarnya dalam pertanggungjawaban. Jabatan yang ketika itu aku dapat dengan garputala. Ah, awal yang sangat menggoda kekuatan hati.

Tapi benar saja, dengan kondisi motor tak ada, pulsa juga tak ada. Mau minta jemput pun terasa kehabisan cara. Akhirnya kekuatan kaki, lebih Alloh SWT pilihkan hari ini buatku. Aku bersyukur, biasanya nafas tersengal-sengal setelah perjalanan jauh nan cepat. Hari ini, luar biasa. Aku benar benar menikmati.

Dari perjalanan ini, ada satu yang terpatri dalam hati. Alloh SWT tak pernah meninggalkan hambaNya dimana pun berada dan dalam kondisi apapun. Di saat ada kelemahan pada diri maka Alloh SWT munculkan kekuatan lain yang tak lain kekuatan yang ada pada diri sendiri.

So, tetap ingat Alloh SWT dimana pun dan dalam kondisi apapun. Karena Alloh SWT maha DEKAT. Lebih dekat dari pada urat nadimu. Dan DIA tak akan sama sekali meninggalkan dirimu. Bersimpuhlah dan menangislah padaNYA ... Alloh SWT sangat sayang pada hambaNYA


Sabtu, 03 April 2021

Merawat sang TUA

Perjuangan dalam merawat orang tua yang sedang sakit. Bukan balas Budi. Karena tak ada balasan yang layak dan mampu menjadi penebus kebaikan mereka. 

Senior oh senior

Senior ... Kemarin, engkau bilang aku harus bilang ketika hendak melangkah. Engkau bilang, aku harus datang ke dalem. Namun ketika aku hendak datang, ternyata engkau ada acara. 

Senior ... Jika aku hendak melangkah dan itu sangat mendesak, bagaimana engkau memandang diriku

Senior ... Entah aku harus bilang apa. Aku ingin engkau paham bahwa langkahku adalah langkah yang membela mereka semua ... Langkah yang harus aku pilih dari pada engkau

NENEK TUA

Nenek Tua ... Terbaring lemah tak berdaya. Kian hari kondisi semakin melemah. Sudah tua, hanya alasan itulah yang tepat untuk menjawabnya. 

Tapi, bukan masalah kondisi lemah tak berdaya. Namun seorang nenek yang pastinya telah lama hidup dan dengan segala kemampuan, dia melahirkan, merawat, membesarkan bahkan menemani hari hari dari semua anak-anaknya. Jangan kau tanya, seberapa sukseskah dia membesarkan anak-anak nya. Jangan kau tanya, jadi apa anak-anak nya sekarang. Jangan tanya, seberapa pintar dia membesarkan anak-anak nya.

Dia yang tak berilmu. Dia yang tak bisa apa-apa. Namun, dia yang telah berjasa besar pada kehidupan anak-anak nya. Jasa yang tak mungkin terbalas dengan sedolar harta anak-anak nya. Jasa yang tak mampu dibalas dengan apapun. 

Hanya doa, semoga semua kebaikan nya menjadi amal pengantar dan pendamping di hari akhir. Dan semoga, semua keburukan dihapus oleh Alloh SWT ... Aamiin

Ya Alloh ... Berikanlah yang terbaik buat nenek tercinta

Jumat, 02 April 2021

FOR MY HUSBAND

Suamiku ... Aku paham betul apa tugasku sebagai seorang istri. Aku paham betul apa tugasku sebagai seorang ibu. Dan aku paham betul apa tugasku sebagai seorang menantu. Tapi ketahuilah suamiku, aku merindumu dan mengharap dirimu ada disampingku karena aku butuh pendampingan dalam menjalankan tugas-tugasku. 

Aku adalah wanita yang engkau peristri. Dan aku adalah wanita yang memiliki ilmu meski tak banyak. Namun dengan sedikit ilmu aku mampu menjalankan tugasku meski jauh dari sempurna. Dan sadarilah wahai suamiku, aku adalah manusia. Manusia tempat nya salah dan dosa. Di situlah peranmu aku nanti. Jadi pendamping serta penasehat. Syukur jika engkau menjadi pembimbing. 

Aku paham betul, dirimu adalah sosok lelaki yang sama denganku. Engkau pun berharap yang sama dariku. Karena kita ditakdirkan memang untuk itu. Dengan bekal yang sama-sama tidak banyak, namun diharapkan mampu untuk saling melengkapi. 

Intinya, jadilah imamku. Ajak aku bicara jika aku lagi diam. Beritahu aku jika aku tidak tahu. Jadikan aku patner mesrahmu dalam perjuangan mu menggapai ridho NYA. Bersama mengantarkan buah hati kita menuju kehidupan yang terbaik dan selalu dalam ridhoNya. Bersama tersenyum melihat dan merasakan kebahagiaan anak-anak kita. Bersama dalam setiap hal adalah keindahan dalam rumah tangga. Karena suami istri adalah patner yang harus solid. Dengan begitu maka harapan indah, menjadi pribadi yang selalu diridhoi oleh Alloh SWT ... Aamiin


UMUR PANJANG

Ya Alloh ... Jika ENGKAU berkenan memanjangkan umurku hingga menjadi nenek renta. Maka berilah aku sakit yang ringan saja. Jika sakit itu merupakan pengantarku menuju kuburku maka jadikanlah sakit itu kebahagiaan buatku. Meski surga ENGKAU takdirkan di bawah telapak kakiku, mudahkanlah anak-anak ku meraih nya. Biarkan mereka meraih surga dengan bahagia tanpa harus bersusah payah merawat ku. Jadikanlah mudah pada sakaratul mautku dan jadikanlah semua amal kebaikan selama hidup menjadi teman kuburku. Serta peringan dalam hisabku. Dan jadikanlah anak-anak ku menjadi wasilah investasi yang selalu hadir dalam penantian menuju syurgaMU ... AAMIIN

Kamis, 01 April 2021

TEMAN MAKAN TEMAN

Teman makan teman. Satu kalimat yang terlontar oleh seorang teman kami. Kalimat yang terinspirasi lantaran ikan lele yang kami kelola. Iya, ikan lele yang genap 4 pekan kami kelola. Tentu saja, pengelola adalah tim yang solid dan setiap hari selalu ada waktu buat lele-lele itu. Hingga lele tumbuh menjadi besar dan sehat. Terlepas dari kondisi itu, satu kejadian di dunia perlelean adalah, adanya seekor lele yang memakan temannya. Hingga akhirnya, kedua lele mati dan mengambang ke permukaan. 

Mungkin secara ilmu perlelean, itu adalah hal biasa. Namun, ada hikmah jika kita tautkan pada kehidupan sehari-hari. Jika ada teman makan teman maka keduanya akan mati. Secara jelas, contohnya apa ya? Hehehe, silahkan cari ya ...

Artinya, selagi kita bisa menghirup udara, kaki mampu melangkah, lesan mampu berucap, dan tangan mampu menggapai, berbuat baiklah kepada sesama. Apalagi kepada teman-teman kita. Mereka yang terkadang lebih mengutamakan kita dari pada keluarga. Mereka yang mengutamakan kita dari pada orang yang dicintai. So, terus berbuat baik lah!

BAHAGIA SESEDERHANA ITU!

Hari ini bisa tertawa lepas. Lepas tanpa basa basi. Lepas tanpa kepura-puraan. Lepas hingga senyum terbawa pulang. "Satu kata untuk si dia" adalah game iseng yang terlontar dan mampu mengisi sela sela waktu menanti jam pulang. Di tengah kelelahan, game itu mampu membuat kami tertawa lepas. 

Tertawa yang sangat bermanfaat dan tentu saja membawa kebahagiaan diantara kami. Selama ini, tidak bahagia? Mungkin itu pertanyaan yang akan terucap jika membaca tulisan ini. Hidup kami bahagia. Tapi yang namanya hidup, adakalanya ada rasa yang kurang nyaman. Hingga mengurangi rasa bahagia yang ada. Bisa jadi saat itu terucap, aku tidak bahagia. 

Sama dengan kami. Hari hari kami yang penuh dengan warna warni kehidupan. Di saat pandemi, ekonomi pun terasa kena pandemi. Kondisi keluarga pun ada yang sakit. Ada selisih paham di keluarga kami. Bahkan di lembaga kami pun tak bisa lepas dari warna warni itu. Dan kebahagiaan terasa belum komplit.

Hari ini, sebentar namun penuh makna. Sederhana namun mampu merubah suasana. Ternyata BAHAGIA SESEDERHANA ITU!


Sabtu, 27 Maret 2021

Ahad

 Hati rasa perih. Kesalahan suami yang selalu ada di depan mata. Selalu hadir di hati. Dan semakin menyesakkan dada. Mau nangis, tapi tak ada privasi. 

Hutang riba nya yang hari ini pun seakan merampas kebebasan diri untuk aktivitas. Tak boleh mengeluh, itulah sisi hati lain yang bicara. Seakan tergambar jelas, ada dua hati yang bicara. 

Ah, apapun itu ... Hati ini sangat nangis dan sedih banget. Masalah suami tak terlepas dari salah saya juga. Semua orang pasti ada jatah masalah masing-masing. Yang jelas, masalah itu salah satu bentuk cinta Alloh padaku. Entah endingnya bagaimana, hanya bisa berdoa, semoga Alloh SWT selalu memberikan ridho dan penjagaan terhadap diri yang faqir.

Wahai suami, entah bagaimana akhir dari hubungan kita. Saat ini cintaku terasa hambar dan aku enggan sekali padamu. Tapi semua adalah kehendak NYA. Dan Anak adalah satu diantara yang lain yang menjadi alasan kenapa diri ini memilih berdiam. Maaf atas segala keangkuhan diri ini


Jumat, 26 Maret 2021

TAKUT MEMINTA

Harapan adalah doa yang tersampai dalam hati. Meski kadang dia muncul sekedar untuk menampakkan diri ke orang lain. Harapan terkadang menjadi sesuatu yang amat besar. Bak kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun. Ketika dia hadir maka terwujudlah menjadi sebuah doa. Doa ... Iya, semua doa akan Alloh SWT ijabah. 


Kamis, 25 Maret 2021

MENGALAH

 "Bu, Jadi orang jangan ngalah terus!" teringat komentar patner kerja saat itu. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah bukan berarti rendah. Tapi mengalah ada bagaimana kita meredam gejolak hati yang terkadang tercabik dengan ucapan seseorang. Jika mampu meredam gejolak hati berarti meredam amarah. Itu artinya kita menjaga diri untuk tidak menyakiti yang lain. 

BELAJAR NYUNNAH DIKIT

Kamis, 18 Maret 2021

CURHAT HARI INI

Santri identik dengan sebuah kepatuhan secara total. Kepatuhan kepada sang kyai, Bu Nyai, Gus dan Neng atau mungkin sebutan lain yang ada di masyarakat. Tak perlu dipersoalkan, karena itu adalah sebuah hasil dari proses yang telah terpatri dalam qolbu. Ini hanya sebuah soal dalam hati. Pertanyaan yang mungkin bingung siapa yang berhak menjawab. 

Jelasnya, ada sebuah pesantren yang kemudian membentuk sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan yang komplit. Terdiri dari Paud hingga Madrasah Aliyah. Kemudian untuk proses pendidikan lebih terarah,dibentuklah yayasan pendidikan dan sosial. Yang secara kewenangan membawahi semua lembaga pendidikan. Tak hanya itu, pondok pesantren pun berada di bawah kewenangan dari yayasan tersebut. Tanpa mengurangi penghormatan dan taqdim kepada Pak Kyai dan Bu Nyai, tetap saja urusan pendidikan tersentral kepada yayasan di bidangnya. 

Yang menjadi pertanyaan adalah ketika para putra dari Pak Kyai dan Bu Nyai tak lagi sependapat. Ada perbedaan di antara beliau para neng dan Gus. Yang masing-masing kukuh dengan idealismenya. Kemudian, para santri atau pemegang amanah di lembaga pendidikan akan semakin berada pada kondisi terpojok karena para pembesar saling bersikukuh dan menganggap dirinya benar. Santri yang awalnya patuh total akhirnya memudar dan bahkan terancam habis. Bukan karena rasa taqdim, tapi kepemimpinan dua arah, yang keduanya menjadi buah simalakama. 

Akhirnya, dengan tetap menjunjung tinggi rasa taqdim, Para pembesar mohon Anda semua lebih intropeksi. Karena ada banyak orang yang butuh pengarahan utuh, pengarahan yang jelas dan semakin bermanfaat dalam kemajuan penerus bangsa. Tetaplah santun dalam berbicara dengan kami para awam, karena kami punya perasaan. Jika memang tersedia bidang yang menangani urusan, janganlah semua dari Anda ikut mengurusnya. Kami santri, santri karbitan yang tetap manusia, ingin dihargai, dianggap sebagai manusia seutuhnya. Dan jika telah mengamanahkan urusan kepada kami, berikan kewenangan kepada kami untuk menyelesaikannya. Cukupla Anda melihat dan sesekali memberi nasehat. Jangan anggap kami seperti kemudi yang dengan sesuka hati Anda menegemudikan kami, memutar-mutar kami. Biarlah kami menjadi pribadi yang mandiri. Mandiri dengan secara manusia yang Alloh SWT berikan. Percayalah kepada kami, kami pun punya mimpi seperti Anda semua. Dan terakhir, jika Anda masih ragu dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain, silahkan pegang sendiri semua urusan di lembaga Anda.

Senin, 01 Maret 2021

Bapak Ibu

Terima kasih Bapak

Terima kasih Ibu

Lelahmu, sakitmu bahkan sedih dan marahmu 

Semua demi aku

Kini, bahagia kurasa

Dengan bekal yang engkau berikan

Aku bisa hidup dalam keterbatasan

Terbatas karena suamiku bukan yang kuharap

Kami hidup jauh dari mimpi

Penghasilan suami yang cukup untuk makan kami

Kasih sayang suami yang selalu aku terima

Namun karena khilafnya riba telah menjerat hidupnya

Hingga air mata ini jatuh setiap kali ingin ku curhat kepada kalian

Curhatku hanya manjaku ketika kecil

Kini aku adalah seorang Ibu harus dewasa dan selalu senyum di depan mu

Dalam hati ku, selalu ku panggil engkau Ibu

Dalam hati ku, selalu ku panggil Bapak

Aku sayang kalian

Aku tak mau membuat hatimu resah 

Salam dari aku, anakmu yang tercantik dan semoga Sholehah. 

Cintaku besar, meski terkadang kuberikan luka 

Maafkan aku Bapak

Maafkan aku Ibu

















Rabu, 17 Februari 2021

MADRASAHKU HIJAU MADRASAHKU NYAMAN





Madrasahku hijau madrasahku nyaman adalah madrasah MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang. Dengan mengutamakan kenyamanan belajar dan hidup sehat buat peserta didik adalah modal kami mengantarkan anak-anak melanjutkan sekolah ke MA/SMA/SMK/N favorit.

Dengan berbasis Madrasah Adiwiyata, belajar menjadi lebih semangat dan betah. MTs Miftahul Ulum 

Sabtu, 13 Februari 2021

KEPALA SEKOLAH

Menjadi seorang kepala sekolah mungkin merupakan sebuah ambisi buat seseorang. Ambisi yang harus dia dapat dengan berbagai cara. Ya memang, secara nama akan dapat nama WOW. Namun perlu dipahami, Kepala sekolah adalah seorang pemimpin dan bertanggungjawab atas semua yang terjadi di sekolahnya. Meski tidak semua harus ditanggung sendiri namun semua yang terjadi harus dipertanggungjawabkan kepada warga, atasan terkait dan secara kepada Alloh SWT

Kamis, 11 Februari 2021

Sanksi MU ya Alloh

Hari ini bisa dikatakan hari yang benar-benar super bagiku. Di hari yang sibuk, menjabat sebagai kepala sekolah. Maklum menjabat baru 4 bulan. Jadi serasa sok sibuk banget. Tapi ini adalah masa yang indah, masa bersejarah dalam hidupku. Banyak hal yang sangat nampol di hati. Hingga terkadang tangis tak tertahankan lagi.

Iya, disatu satu Alloh meninggikan derajatku sebagai kepala sekolah namun disisi lain, harus berperan ekstra dalam menghadapi para senior yang sangat ekstrem. Tak ada luka fisik, tak ada memar yang harus ku perban. Namun, banyak kata yang tergores dalam hati. Kata yang membuat air mata tak tertahan. Kata yang membuat senyum kuncup. Kata yang membuat aku serasa harus berbalik mengenang masa laluku. Kata yang menjadi stressing buat melangkah ke depan. Ini adalah jalanMU. Tak ada ambisi meraih jabatan tertinggi tapi ENGKAU berkenan. Tak ada penjilatan tapi ENGKAU angkat. Bissmilah, bersamaMU aku bisa Ya Alloh.

Di kehidupan rumah tangga, perekonomian sedang tidak membaik. Tapi saya yakin, kondisi ini wajar di saat pandemi. Di luar sana, banyak saudara-saudara yang mungkin lebih parah dari kami. Tapi, satu hal yang aku merasa Alloh sedang mengiqob, memberi sanksi atas dosa-dosa yang telah kami lakukan. Di saat seperti ini, suami harus menghadapi banyak penagihan. Suami terjebak dengan pinjaman online. Tak seberapa memang, tapi nominal itu membuat kami harus segera memutuskan satu hal. Iya, satu hal yang bisa mengantar para penagih itu pulang. Akhirnya, motor suami kami putuskan untuk dijual guna melunasi amanah-amanah yang menyesakkan.

Iya, Alhamdulillah motor suami telah terjual dan alhasil motor kami tersisa satu. Suami yang memutuskan menyambung kerja dengan grab dan saya sendiri sebagai kepala sekolah yang mobilitas sangat tinggi. Iya, air mata tak mampu tertahan lagi.

Kenyataan memang seperti itu adanya. Semuanya di luar kendali kami. Maka dengan bismilah bersamaMU ya Alloh engakau Maha Pengampun dan Engkau Maha Penyayang. Haqqul Yaqin ... Allohu shomad

Rabu, 10 Februari 2021

Tulis Aja

Bingung mau nulis apa? Bingung blognya mau diisi apa ini? Iya itulah aku saat ini. Alhasil tulis aja yang ada di benak. Dan muncullah judul "Tulis Aja" Hehehe ...

Kejadian seakan-akan sambut-menyambut hari-hariku saat ini. Mulai dari kejadian yang buat senyum merekah hingga pada hal-hal yang bikin mewek. Maklumlah emak-emak yang sudah gak mudah lagi, emosi terkadang gak mudah dikendalikan. Karena itu, perlu sekali kita memiliki teman, lingkungan atau bahkan guru yang mampu mengingatkan kita. Tak ada kesempurnaan. Itulah kita diciptakan. Maka muncul kemudian dengan makhluk sosial, iya untuk seperti itulah.

So, terus berteman dan selalu perbaiki diri. Tak ada yang salah dari mereka. Kitalah yang terkadang lupa diri, lupa jalan bahkan lupa akan kebenaran. Terus introspeksi dan menemukan jalan Alloh SWT, Insya Alloh ridhoNYA selalu kita dapat. 

Lha gak nyambung blas to ... pikiran ni lagi gado-gado pake telur, nyaman enak bin lezat. Yang sepikiran dengan saya, pasti paham ... hehehe

☺☺☺

Sabtu, 30 Januari 2021

KEJAYAAN YANG TERTUNDA

Mungkin masih tertunda, atau mungkin Alloh SWT sedang mempersiapkan diri menghadapi kejayaan yang Maha Dasyat. Dan Aku berharap tak lama lagi, besok ... Iya, 24 jam lagi Aku mendapatkan semua mimpi yang selalu tersebut dalam doรก-doรก lirihku. 

Kondisi yang benar-benar membuktikan bahwa menikah memiliki kebaikan setengah agama. Kondisi dimana senyum paksaku harus merekah di balik hatiku yang merintih. Merintih memanggil Alloh SWT. Memanggil Sang Kuasa akan segala sesuatu. Sang Kholiq yang menciptakan semuanya. Sang Maha yang telah melebarkan langit yang terkadang menyirami kami dengan air kesejukannya. Kini, Aku merintih kesakitan namun senyum yang selalu merekah. Suami yang telah di PHK mampu memberikan nafkah menuju seratus ribu perhari. Suami yang telah di PHK mampu memberikan Aku seperangkat baju muslimah lengkap, meski entah kapan. Suami yang telah di PHK mampu membelikan aku berlian di cincin jari manisku, meski saat ini hanya senyum manis yang ku terima. Suamiku yang dengan segenap harapanku, Alloh SWT segera memberi kemampuan padanya untuk memberikan yang terbaik bagiku. Senyumku merekah dengan segenap ridho yang ku nanti jatuh padaku. Segala harapan yang akan menerangi jalanku menjadi ibu terbaik buat anak-anakku, wanita pebisnis yang sukses sesuai harapan, seorang guru yang selalu dirindukan semua warga sekolah dan menjadi anak serta menantu yang selalu memberikan kebahagiaan.

Ya Alloh SWT, ENGKAU ada ... ENGKAU dekat... Aku yang banyak dosa, selalu jauh dariMU. Janganlah dosa ini menjadikan mata ini menangis terlalu lama. Jangan biarkan harapan-harapan ini menjadi hiasan semangatku. Wujudkan Ya Alloh atas semua harapanku selama ini, wujudkan semua mimpi-mimpiku selama ini... Biarkan aku selalu menyebut namaMU dalam setiap kejayaanku.. Aamiin

Kamis, 21 Januari 2021

KESEMPATAN

Bukan hal yang pertama kali, mendapat kesempatan menjadi peserta workshop bahkan Diklat. Meski daftar setelah waktu deadline pendaftaran telah berakhir. Workshop ataupun diklat dan sejenisnya akan sangat dinanti kehadiran jika tema yang diusung sangat update. Bahkan, merupakan ilmu yang sangat diperlukan dalam menapaki hidup. Tanpa melihat alasan mereka menerima meski terlambat. Tapi adanya kesempatan yang diberikan merupakan hal yang perlu disyukuri. 

Berbicara tentang kesempatan, seringkali kita tidak ingat bahkan tak terpikirkan bahwa dalam hidup Alloh SWT seringkali memberikan kesempatan kepada kita. Kita paham bahwa akhir cerita dari hidup kita di dunia adalah kematian. Dan kehidupan berikutnya adalah akhirat. Kehidupan akhirat merupakan kehidupan pembalasan. Iya, apapun yang telah diperbuat selama di dunia akan dirasa di akhirat. 

Ibarat menabung, di akhirat adalah waktunya buka tabungan. Jikalau banyak tabungan kebaikan di dunia tentu saja akan menikmati kebaikan bahkan kemewahan di akhirat kelak. Sebaliknya jika tabungan lebih banyak tidak baiknya maka balasan yang pantas jualah yang diterima.

Kehidupan setelah tidur semalaman merupakan kesempatan yang Alloh SWT berikan kepada kita. Namun sering kali kita tak ingat bahkan melalaikan kesempatan yang ada. Padahal, sangat paham bahwa kematian bisa saja terjadi kapan pun, sering kali mendengar bahkan melihat orang meninggal dengan cepat alias mendadak. Tapi belum cukup juga untuk mengingatkan kita akan adanya kehidupan akhirat yang pasti kita rasa.

So, mari kita sambut dan terima kesempatan yang Alloh SWT berikan kepada kita dengan sebaik mungkin. Dan dengan ijinNYA, semoga kita semua diberikan umur panjang, sehat dan banyak kebaikan yang terkumpul sebagai saku menuju kehidupan akhirat.

Salam semangat

Selasa, 19 Januari 2021

WASILAH

 Ya Alloh ... Untuk kesekian kalinya, anakku harus ku tinggal. Masih dengan alasan yang tetap, urusan sekolah, urusan bimbel. Ya, hari ini dia aku tinggalkan di sekolah karena aku harus mengurus buku rekening di BNI. Antrian yang banyak membuat aku juga tidak balik balik ke sekolah. Entah lagi ngapain dia di sekolah saat ini. Semoga dia selalu happy menanti bundanya yang selalu sibuk dan sering meninggalkan dia.

Harapan selalu menjadi terbaik buat anakku. Dan semoga kesibukan aku mengurus sekolah, untuk pendidikan lebih luas menjadi wasilah kesolehan anakku, tercukupi semua kebutuhan hidup keluargaku, terqobulnya semua hajatku dan selalu diberikan kemudahan serta ridho NYA dalam setiap langkah ku 

Ya Alloh ... Aku haturkan mohonku padaMU. Qobulkanlah semua doaku ... Karena aku yakin ENGKAU Maha Melihat, 






HARAPAN

 Hmmm ... Alhamdulillah, hanya syukur yang patut dilakukan oleh semua hamba Alloh SWT. Bagaimana tidak, Alloh SWT selalu menginginkan yang terbaik buat hambaNYA. Semua fasilitas hidup telah DIA siapkan buat kita. Alloh SWT Maha Dekat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan pastinya Maha Kasih dan Sayang. Jangan pernah ragu padaNYA. Teruslah tanamkan pada dirimu Alloh SWT selalu TERBAIK.

Namun, terkadang ada sesuatu yang diluar harapan kita. Tak lain semua itu karena diri kita juga. Melalui kejadian yang tidak baik menurut kita, mungkin karena dosa dosa yang telah kita perbuat di hari kemarin. Atau mungkin juga, Alloh SWT hendak mengangkat derajat kita. Atau ada kebaikan yang luar biasa setelah itu ... Dan tentunya setelah kita lulus melewatinya.

Wal akhir ... Mari kuatkan cinta kita padaNYA. Terus berhusnudzon. Dan raihlah ridhoNYA supaya hidup kita menjadi ringan. InsyaAlloh


Bayar Les Anak

Les merupakan sebuah kegiatan belajar tambahan yang diperuntukkan bagi mereka yang perlu. Dalam arti, les ini sebenarnya tidak mutlak dibutuhkan oleh setiap anak. Karena pada dasarnya, setiap anak memiliki kecerdasan, yang memang jika kita ingin anak-anak kita istimewa maka harus pintar menggali potensi pada diri anak.

Dalam kenyataannya, banyak orang tua yang memasukkan anak anaknya pada sebuah bimbel dengan harapan anaknya unggul pada nilai raport. Atau secara gamblang bisa dikatakan orang tua ingin anaknya meraih ranking. Tak jarang dari itu, orang tua menginginkan anaknya pintar dalam semua pelajaran, ingin anaknya mendapatkan nilai minimal 80 untuk semua pelajaran. Namun pada hasilnya, tidak demikian. Lalu orang tua mengambil sikap dengan daftar ke bimbel.

Beberapa Bimbel memiliki tujuan mencerdaskan anak bangsa, menjadikan mereka hebat. Te

Senin, 21 Desember 2020

Sabar atau Syukur?

Ayo pemirsa, silahkan pilih satu ya ... sabar atau syukur yang didahulukan? Ehem, lihat kasusnya dulu dong mak! Kalau pas kepala cenat cenut masak iya bilang Alhamdulillah. Kayaknya munafik aja antara ucapan dan yang dirasa di hati. Ada yang jawabnya begitu gak? hehe ... jawaban bebas kok!

Tapi gini ya pemirsa, saya sih gak akan jelasin panjang lebar sama dengan luas bab sabar dan syukur itu. Akan tetapi perlu kita renungkan sebentar saja sekaligus mengingat sebuah dalil yang tersebut dalam Al qur'an bahwa : " Barang siapa yang bersyukur atas nikmat, maka akan ditambah kenikmatan dan barang siapa yang kufur nikmat, sesungguhnya adzabKU sangat pedih" masih ingat ya? lha terus, kepala cenat-cenut termasuk nikmat atau apa ya? Nah pemirsa, disinilah saya mengajak Anda semua untuk selalu berhusnudzon atau berprasangka baik terhadap Alloh SWT. Jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan seperti halnya kepala cenat-cenut, berarti sebentar lagi akan mendapat nikmat yang luar biasa besarnya. Maka dari itu, tidak salah jika kemudian kita bersyukur atau sekedar mengucap Alhamdulillah...

Selain bisa nambahin nikmat, dengan bersyukur hati malah lebih adem. Dan pastinya hati yang adem disertai minta kebaikan kepada Alloh SWT akan menjadikan diri lebih baik. 

So, STOP mengeluh! 

STOP menggerutu! 

STOP mengumpat! 

Berhusnudzon selalu dan biasakan diri untuk bersyukur dalam setiap kondisi... 

Yup, salam cinta forever๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–

Minggu, 13 Desember 2020

Di mana posisinya?

 Malam, 13 Desember 2020

Sebagai penutup hari sekaligus pengantar tidur. Dengan harapan ganjalan di hati tersalurkan. Entahlah kalimat yang ku dengar seakan mengusik rasa yang sulit terucap. Semoga dengan menulis di sini, akan ada cerah yang ku tangkap di esok hari.

"Saya cuma menyampaikan ilmu bukan sebagai pekerjaan. Pekerjaan saya adalah blablabla (secret ya). Artinya saya mengajar bukan untuk mencari uang karena uang hanya saya dapat dari pekerjaan yang lain" Kalimat tersebut seakan mengusik hati yang terlanjur cinta pada dunia pendidikan.

Berprofesi sebagai pengajar atau guru di sebuah sekolah swasta memang tidak menjanjikan bisa menjadi seorang yang kaya raya. Apalagi berada di sekolah yang sangat kecil, bisa dibilang jumlah siswanya tidak lebih dari 200 anak. Selain itu, siswanya berasal dari keluarga yang standar ekonominya adalah menengah ke bawah. Mau mengharap gaji UMR? Bisakah? Bisa kaya ngajar di situ? Bagi saya pribadi, menjawab BISA. Sebenarnya bukan pada swasta, jumlah siswa dan latar belakang siswa yang menjadi pusat perhatiannya. Melainkan pola pikir atau cara pandang kita ketika berprofesi sebagai pengajar atau guru. Artinya saya mengajak Anda yang saat ini mengajar di sekolah swasta untuk merubah mindset. Yakinlah, profesi Anda tidak salah. Dan dengan profesi ini Anda akan menjadi JAYA.

Teringat akan tauziyah dari Habib Novel Alaydrus. Beliau menyampaikan ketika kita memenuhi kebutuhan orang lain maka Alloh SWT lah yang akan memenuhi kebutuhan kita. Karena pada dasarnya, uang atau rizki yang berupa benda yang kita harapkan bukan berasal dari pekerjaan atau kemampuan kita. Semua bentuk rizki berasal dari Alloh SWT. DIAlah yang akan memberi kita rizki, memenuhi kebutuhan hidup kita bahkan semua impian-impian kita. Artinya, dengan kita berprofesi sebagai guru atau mungkin tenaga kependidikan yang waktunya habis untuk ngurusi pendidikan, maka di situlah kita sedang memenuhi kebutuhan orang lain dalam pendidikan. Maka Alloh lah yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, Insya Alloh

Kalimat yang membuat saya galau, memiliki arti mendapat uang adalah tujuan utama. Dan itu tidak berada di sekolah. Sehingga, harus mencari di tempat lain. Dan kalau uang menjadi tujuan dan berada pada urutan pertama, maka profesi mengajar bukan lagi pertama melainkan yang kesekian dan entah DI MANA POSISINYA?

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

  Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...