CERITA_HATI
CERITA_HATI, iyup Blog ini bertujuan untuk mengeluarkan uneg-uneg, biar tidak jadi kuman dalam perut. Perut kembung jadi plong, dada sakit bisa terobati dengan menulis, appa iya??? Dah pokoknya untuk teman-teman yang bertemu dengan blog ini, jangan lupa komentar ya, kita saling support. Karena saya yakin, temen-temen punya uneg-uneg juga
Selasa, 07 April 2026
KRISIS ENERGY DI BULAN APRIL 2026
Jumat, 29 Agustus 2025
Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa
Ada satu istilah klasik yang sering
banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manis di
telinga, tapi getir di hati. Apalagi bagi guru di sekolah swasta kecil, yang
jangankan tanda jasa, gaji bulanan saja kadang masih kalah tipis sama uang
jajan anak-anak sultan di sekolah sebelah.
Tapi ternyata, pekerjaan guru bukan
cuma sekadar mengajar. Ada satu pekerjaan tambahan yang entah kenapa selalu
menempel, yaitu: administrasi. Dari RPP, silabus, jurnal mengajar, sampai
laporan kegiatan yang entah siapa yang benar-benar baca. Semua itu harus
selesai, harus rapi, dan harus siap dipamerkan setiap kali ada inspeksi
mendadak.
Kalau di sekolah negeri, setidaknya
ada staf tata usaha atau tenaga administrasi yang bisa jadi tameng. Nah, di
sekolah swasta kecil? Jangan harap. Semua diborong guru. Mau nyusun materi?
Guru. Mau jadi bendahara kegiatan? Guru. Mau ngurus surat keterangan pindah
murid? Tetap guru. Kalau bisa, sekolah sekalian nyuruh guru jadi satpam, tukang
kebun, sampai tim konsumsi pas ada acara.
Kalau gak gitu, terjadilah jabatan
rangkap, ya jadi guru ya jadi staf tata usaha. Ada juga, jadi guru jadi
bendahara juga. Ada lagi, jadi guru, jadi operator juga. Bahkan, pekerjaan
sekolah harus jadi pekerjaan rumah, saking banyaknya tugas, dan waktu di
sekolah gak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang wow itu.
Padahal, mari kita jujur sebentar.
Tugas utama guru itu mengajar. Tapi energi mereka sering habis terkuras
untuk hal-hal teknis yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain. Bayangkan,
habis 2 jam ngajarin matematika sambil mikirin murid yang masih bingung
pecahan, guru harus lembur malamnya cuma buat ngetik laporan bulanan yang
tebalnya bisa ngalahin skripsi mahasiswa S1.
Dan jangan salah, laporan itu
biasanya hanya akan berakhir di tumpukan map di lemari besi kepala sekolah.
Setiap kali ada pengawas datang, map itu dipamerkan seperti harta karun.
Setelah itu, ditutup lagi. Guru? Ya balik lagi ke kelas dengan wajah kusut
karena semalam kurang tidur.
Di titik ini, guru jadi seperti
manusia serba bisa atau lebih tepatnya serba disuruh. Seringkali bukan karena
mereka mau, tapi karena kondisi sekolah swasta kecil memang serba terbatas.
Anggaran nggak cukup untuk menggaji tenaga administrasi, akhirnya guru yang
jadi korban.
Kalau ada yang tanya, “Lho, bukannya
sudah ada teknologi digital, bisa pakai aplikasi administrasi biar lebih
gampang?” Jawabannya: iya, bisa. Tapi seringkali fasilitasnya nggak memadai.
Laptop sekolah bisa jadi masih pakai Windows zaman Majapahit, koneksi internet sering
putus nyambung kayak hubungan LDR. Jadi jangan heran kalau akhirnya banyak
administrasi tetap ditulis manual.
Guru jadi kehilangan fokus pada yang
seharusnya mendidik. Karena sibuk ngurus tumpukan berkas, waktu mereka untuk
menyiapkan materi kreatif atau mendampingi murid secara personal malah
terpangkas. Murid yang nakal butuh bimbingan? Ditunda, karena guru lagi sibuk
bikin laporan kegiatan. Murid yang kesulitan memahami pelajaran? Terkadang
terlewat, karena guru harus nyicil input nilai di excel biar cepat selesai.
Ironis, bukan? Pahlawan tanpa tanda
jasa yang katanya tugas utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru sering
lebih sibuk mencerdaskan format administrasi.
Mungkin sudah saatnya pemerintah
(atau setidaknya yayasan swasta) sadar, bahwa administrasi berlebihan adalah
beban yang membuat guru gagal jadi guru sepenuhnya. Kalau memang guru harus
tetap menulis laporan, ya sederhanakan. Kalau bisa diserahkan ke tenaga
administrasi, rekrutlah. Kalau anggaran nggak ada, ya minimal jangan menuntut
berlebihan.
Karena kalau terus begini, jangan
salahkan kalau banyak guru lebih lihai bikin laporan daripada bikin murid paham
pelajaran. Dan itu, sayangnya, bukan kemenangan bagi pendidikan kita, melainkan
kekalahan kecil yang terus berulang.
Tulisan ini, mungkin bisa menjadi
koreksi bersama. Bagaimana pun juga, pendidikan merupakan factor keberhasilan
atau kesuksesan sebuah Negara. Pendidikan merupakan penentu kondisi masa depan.
Kalau dari hal kecil seperti ini dibiarkan, terus apa yang diharapkan dari
pendidikan itu?
Guru memang sudah disejahterakan
dengan berbagai tunjangan. Bukan mengeluh, tapi realitas. Semakin besar nominal
tunjangan yang diberikan, semakin besar pula tuntutan yang diminta. Ah entahlah!
Tapi sekali lagi, tugas guru perlu dikuatkan lagi oleh banyak pihak. Tentunya
pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap kebijakan pendidikan.
Salam hormat, dari guru swasta di
Lumajang
Kamis, 21 Agustus 2025
Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu
Berbicara dunia pendidikan, orang
sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan.
Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah
naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah
swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya,
aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan
anak SMA plus bonus sabar level malaikat.
Madrasah swasta ini sangatlah unik.
Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak
bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf
berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah,
di sinilah kata “profesional” diuji.
Baiklah, Penulis ajak ngomongin
tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa
menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok
yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid.
Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang
hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut
menguleni madrasah itu dari titik nol.
Sayangnya, ada dua tipe guru di
madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling
pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan,
sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang
dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.
Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak
kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen
dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah
sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan,
tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.
Padahal, madrasah swasta butuh lebih
banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c,
tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah
kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru
berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi
sejarah.
Menjadi guru di madrasah swasta
memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi
justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang.
Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga
bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.
Dan siapa tahu, kelak ketika
madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita
bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari
perjuangan itu.”
Karena guru sejati itu bukan numpang
makan, tapi numpang berjuang.
Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar
bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan
lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?
Rabu, 20 Agustus 2025
Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional
Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari
Lumajang
Setiap bulan Agustus,
sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade
Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung,
tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi
sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa
sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil
lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang
sering lolos dari kesadaran kita.
Pertama, lomba di sekolah
mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik
tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi
dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa
bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling
dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.
Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya
kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas
bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu
nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini
lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang
yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?
Ketiga, lomba di sekolah merupakan
latihan mental. Gini deh, coba kalian bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk,
disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu
mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih
keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut
belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa
makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.
Dan yang tak kalah penting,
lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada
geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung,
semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius
yang tugasnya nagih tugas.
Jadi, kalau ada orang yang
menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru!
Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas,
kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa,
bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.
Lomba masukin sedotan ke dalam botol
memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak
belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap
ketawa.
Biodata
Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang
pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha
hihi
Guru Itu Beban Negara, DPR Itu Bebek Bertelur Emas
https://id.pngtree.com
"Guru itu beban negara."
Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik
jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang.
Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja
guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi
ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang
patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke
mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.
Lucunya, guru yang digaji pas-pasan
dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap
hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus
petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang
produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun
kadang hasil copy paste.
Kalau dihitung, 3 juta per hari
berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan
tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak
proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau
negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat
3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil
disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian
menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi
operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang
"ini beban hidup".
Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa
tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup,
dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR
itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban
negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya
cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.
Jadi, kalau negara masih tega
menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup
sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair
tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah
itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan
sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.
Demikian opini receh ini, semoga
bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil
menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski
kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.
Senin, 18 Agustus 2025
Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom
Sumber Gambar : https://id.pngtree.com
Ada yang bilang, sekolah zaman dulu
itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang,
sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres
gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau
dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari
Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet
kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys.
Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau
dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain
halus, supaya gak retak.
Pendidikan memang kayak tren
fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis
dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop,
proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme
wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana,
Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan
ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada
cengar-cengir.
1. Metode
Belajar
Dari Ceramah
ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu
pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru
menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar
jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan
kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca
keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom
mulai unstable pas lagi presentasi.
2. Teknologi
Dari Kapur
Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di
baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku
tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil,
hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari
materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses
kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas
lagi cari referensi tugas.
3. Hubungan
Guru-Murid
Dari
Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak
begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug,
apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal
Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat
cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang,
hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media
sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati,
terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.
4. Tantangan
Dari
Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal,
sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan.
Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang
hoaks.
Nah itu dalamnya pendidikan yang
bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di
sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu
sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang
waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan
tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak
dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka.
Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma
satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini,
sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk
melangkah untuk masa depan lebih baik.
Minggu, 06 Oktober 2024
KEINGINAN JELANG TIDUR
Jangan tanya ya, kenapa? Karena mata sebenarnya tinggal 5 Watt tapi keinginan masih 100 persen.
Dan entah dari mana, saat ini butuh sekali 3 barang itu.
Bismillah, Allohumma sholli Aala sayyidina Muhammad, kuasa Alloh SWT, Insyaallah atas ijinnya, aku besok akan dapat kabar gembira dan dapat apa yang aku inginkan, aamiin
Sabtu, 05 Maret 2022
SYAITHON
"Tugas syaithon adalah menggoda manusia hingga ia tergelincir kepada jalan-jalan yang tidak diridhoi oleh Alloh SWT. Nah, kalau tugas syaithon sekedar menggoda sementara pelaksana dari godaan syaithon adalah manusia. Maka manusia bisa disebut adalah BAPAKnya syaithon." Ustadz Danu
Jleb banget bukan? ternyata jika kita tergoda dan melaksanakan godaan syaithon, maka kita lebih parah dari syaithon.
Semoga kita dilindungi dari godaan syaithon ya ... Aamiin
Jumat, 18 Februari 2022
SALAH PILIH
Rabu, 16 Februari 2022
ALASAN
Foto : Depan masjid KH. Hamid Pasuruan
Foto diambil setelah kegiatan silaturahmi ke rumah salah satu keluarga besar yang kami anggap kaya dari segi finansial. Ternyata, iya emang mereka sangat kaya. Alhamdulillah, semoga Rizqi mereka senantiasa melimpah dan berkah. Aamiin
Terlepas dari kekayaan mereka, ada alasan yang kuat bagi kami untuk hadir di tengah-tengah mereka. Yang jika diukur jarak, Lumajang Pasuruan lumayan tidak dekat. Apalagi sepulang dari sana, badan greges mulai hadir dalam diri kami. Ada alasan yang kuat, ada tujuan mulia di dalamnya. Hingga semangat kami berangkat.
Alasan tidak bisa dilepas dari kehidupan kita bahkan siapapun juga. Dengan alasan, kita mampu bangkit semangat. Dengan alasan, bisa juga kita jauh dari semangat. Bahkan dengan alasan pula, manusia akan menjadi terhormat, mulia. Dengan alasan, manusia bisa menjadi tidak mulia.
Alasan akan setia dalam mendampingi kita menjalani alur kehidupan. Hanya kita lah yang harus mampu, menempatkan alasan di tempat yang tepat hingga alasan itu membuahkan kebaikan buat kita dan orang sekitar.
Selamat berkarya
Minggu, 16 Januari 2022
Penantian
Menanti kabar gembira yang diharapkan bagaikan menanti kabar dari sang kekasih yang lama tak bersua
Rabu, 08 September 2021
Rabu, 8 September 2021
Sedikit catatan untuk pengingat. Lain waktu akan diulas lebih lama disini
catatan hari ini :
1. Keegoan yang menutup rasa kemanusiaan. Tidak memanusiakan manusia. Dengan membawa kata umik (ibu seorang Bu Nyai) maka semua apa kata BOS. Mengganti dengan waktu konfirmasi satu menit. TAKTIK! (USTADZAH ANA)
2. Kenyataan belum sesuai harapan. Berharap bisa mengantar pulang anak-anak tepat waktu ternyata karet hingga dua jam setengah... Oh! (ANANG)
3. Berbincang sekedar untuk menjawab. Sambil menunggu jemputan yang dinanti. Bincang-bincang sekaligus taaruf ternyata sekedar di mulut saja. Diluar sana, engkau marah...Ah!(DIMAS)
Minggu, 05 September 2021
Sendiri-sendiri
Hari ini, 5 September 2021. Ada rasa yang tak bisa dipendam. Ada rasa yang yang yang tak bisa diam. "Kewajiban suami adalah menafkahi keluarga, jika tidak mampu maka lebih baik hidup sendiri-sendiri", kalimat yang terucap dari lisan seorang istri yang telah berusaha bersikap sabar. Kesabaran yang ternyata tak bisa bertahan karena tuntutan hidup yang kian meronta.
Tuntutan hidup yang kian meronta seakan menutup rapat tabir bagaimana dengan hak seorang anak. Iya, buah hati kami. Dia punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah maupun bundanya. Tapi, iya sekali lagi ... Istri bukanlah suatu makhluk yang sempurna. Dalam arti, dia menjadi seorang ibu, istri, wanita karir yang kemudian juga menjadi tulang punggung keluarga. Jika memang demikian, sangatlah tidak ringan tugas nya. Jika demikian, lalu dimanakah peran seorang suami? Jika demikian yang terjadi, salahkah seorang istri menuntut cerai kepada suaminya. Jika demikian itu, salahkah seorang Bunda ingin mendidik putra semata wayangnya seorang diri?
Jika ditanya, adakah rasa cinta sama suami? Pastinya ada, tapi hitungannya sangat kecil dibandingkan dengan tuntutan hidup. Jikalau suami tak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, lalu dimanakah kebahagiaan sang istri. Istri bahagia akan ada anak yang HEBAT.
Salam dari aku, istri yang hari ini berani berucap dengan mata berurai air mata
Senin, 23 Agustus 2021
PEMBINA ALA ANDA
Bu, Jika Anda adalah pembina dan kami adalah binaan. Lebih tepatnya, saya adalah binaan Anda. Maka binalah saya tanpa harus emosi. Binalah saya dengan berhusnudzon. Saya adalah orang baru di bidang saya. Saya butuh bimbingan bukan amarah. Saya butuh support bukan ungkitan kesalahan yang lalu. Saya baru menjabat secara PJS 3 bulan. Dan resmi selama 6 bulan. Kalimat yang Anda ucapkan seperti saya sudah menjabat bertahun-tahun. Mana peran Anda sebagai pembina?
Sebagai pembina, Anda sendiri yang menyebut dalam rapat kemarin, sabtu 21 Agustus 2021. Sadar atau tidak, itulah kata yang menancap di otak saya. Karena itu pula mungkin yang menjadi alasan, Anda tidak mau masuk ke ruangan kantor. Iya, sebagai pembina akan datang jika diundang dan diperlukan. Perlu diingat, secara struktural Anda adalah bawahan saya. Dan Anda dibayar karena kerja Anda. Bukan sebagai penasehat. Kerja! sudah tentu harus masuk kantor, meski sekedar bersapa dengan teman sejawat. Sekali lagi, Anda dibayar karena kerja Anda. Jika bekerja tidak sesuai dengan aturan yang ada, silahkan bebas bersikap. Tapi Demi Alloh ... saya tidak Ridho dengan sikap Anda. Sekali lagi sebagai pimpinan, saya tidak Ridho!
Iya, tempat bekerja Anda. Tempat Anda mendapatkan rizqi adalah milik Mertua Anda. Tapi bukan berarti ANda bersikap semaunya sendiri. Its oke, dimata Anda saya adalah orang yang banyak berhutang budi kepada Anda. Semua jabatan dan rizki yang berlimpah terdapat peran Anda. Iya, ada tanda tangan yang memang menunjang semuanya. Tapi saya pun mendapatkan tanda tangan Anda dengan keringat yang deras. Air mata yang jarang Anda pedulikan. Sering hati tercabik karena kalimat Anda yang pedas.
Sekarang, saya adalah pimpinan Anda. Maka jika saya diam bukan berarti saya ridho. Semuanya ada balasan. Saya tak berhak membalas sikap Anda. Hanya Alloh SWT yang akan menangani Anda. Oke ... Terima kasih!
Halo para reader! Rangkaian kalimat diatas merupakan curhatan seorang pemimpin baru. Pemimpin baru hasil dari perpecahan senior yang notabene para pembesar agamis dan berdarah biru. Ini merupakan luapan emosi yang tak mampu tertuang di dunia nyata. Karena sadar betul, si curhater adalah seorang plegmatis. CINTA DAMAI.
Rabu, 11 Agustus 2021
Kamis, 12 Agustus 2021
Menjadi seorang pemimpin tak gampang. Mengendalikan patner bukanlah tugas seorang pemimpin. Pemimpin hanyalah menyatukan suara, pendapat sehingga menjadi tim yang solid. Jika ada patner yang suara tak satu. Sometime mereka bersuara A, lain waktu mereka bersuara B tentu sangat menyiksa batin pemimpin. Dan pastinya apa yang telah tersampai belum menyatu dan terpatri dalam diri mereka, sang patner. Maka berpasrahlah dan serahkan patner Anda kepada Alloh SWT. Sabar dan teruslah perbanyak sholat. Sampaikan kepada Alloh SWT apa yang menjadi gundah gulana di anatara hubunganmu dengan mereka. Alloh Maha Melihat. Maha Mengetahui. Tetaplah semangat ... Kembalikan pada tujuan awal bahwa engkau berjuang untuk anak-anak, generasi penerus islam, generasi penerus bangsa.
Selasa, 15 Juni 2021
Hati yang tak sehat
Hati yang tak sehat maka semua yang ada di depannya akan terlihat tidak baik. Hati yang tak sehat akan menghasilkan kata kata yang tidak baik pula. Sehingga tak jarang orang lain akan merasa tersakiti oleh seseorang yang memiliki hati tak sehat.
Orang lain yang tersakiti karena ucapan lesan tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan bisa jadi kata kata yang dia dengar akan membuat luka yang amat dalam. Luka yang akan dia bawa hingga akhirnya tidak mudah memaafkan.
Maka jaga hati kita, bahagiakan hati terlebih dahulu. Setelah itu bercengkrama dengan orang lain ...
Nasehat untuk saya pribadi ... Salam santun
Senin, 31 Mei 2021
BERHARAP
Berharap sering kali salah tempat. Kali ini pun, saat pikiran full dan dominan mikir si dia yang always mendampingi hidupku, eh malah sepertinya dia cuek banget sama aku. Ah, suamiku ... Aku belum paham bahasa cintamu
Minggu, 30 Mei 2021
BAGI BAGI
Bagi bagi ... Ayuk kita bagi bagi! Eits, bukan bagi bagi kue ya ... Melainkan bagi bagi tugas. Dengan berbagi tugas maka tugas akan lebih ringan. Dan pastinya lebih teratur dan bisa selesai tepat waktu. Tentu saja, dengan selalu memperhatikan tupoksi masing-masing.
Setelah itu, ajak teman atau pantner kerja untuk bisa melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin.
Rabu, 19 Mei 2021
JIWA SOSIAL
Idul Fitri 1442 H, hari ini merupakan hari ketujuh berlebaran. Meski begitu, tak menyurutkan langkah kami untuk terus bersilaturrohmi ke sanak saudara dan teman. Entah apa sebab, lebaran kali ini serasa semangat sekali untuk unjung-unjung. Yang pasti ketika berada di jalan, berbincang santai dan tertawa lepas benar-benar melepas segala pikiran yang lumayan mengganjal. Bisa dibilang, silaturrohim kali ini benar-benar refreshing yang mantap.
Dari satu rumah ke rumah lain, dari topik satu ke topik lain, ada satu topik pembicaraan yang mengena sekali. Hingga kepikiran sampai rumah. Dan tak sabar menuliskannya di blog ini. Yakni tentang jiwa sosial salah satu saudara kami. Iya, dari ceritanya, ku simpulkan dia adalah aktivis sosial. Bagaimana tidak, pagi sebagai kepala PAUD. Sore hari mengajar mengaji di rumahnya. Dan setiap tiga bulan sekali ada rutinitas donor darah. Enjoy... itu yang aku amati. Dia menjalani hidup dengan nikmat. Semuanya berjalan tanpa harus perhitungan dengan angka rupiah. Sepertinya, itulah salah satu sebab rezekinya mengalir bak air sungai.
Tak dipungkiri, sepasang suami istri yang ada di cerita tersebut memang berasal dari keluarga berada. Berasal dari keluarga yang secara ekonomi sudah mapan. Tapi kembali lagi, bermodal sebesar apapun jika pemegang tak mampu mengendalikannya maka tak akan pernah bertambah. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Rezki memang sudah tertakar. Namun tak ada yang tahu berapa takaran rezeki untuk kita. Yang perlu diketahui adalah semakin banyak mengeluarkan untuk membahagiakan orang lain maka bersamaan itu pula rezeki akan masuk ke diri dan keluarga kita.
Oleh karena itu, berbagi itu sangat penting. Berbagi tidak harus bentuk rupiah. Apapun yang bisa kita berikan, maka bagikan. Dan terpenting lagi, keikhlasan tanpa peduli dengan rupiah, sangat berdampak buat diri kita. Tak hanya itu, semua kebaikan yang kita tabur maka kebaikan pula yang akan kita panen.
Yuk selamat idul fitri 1442 H berarti semangat untuk berbagi. Salam Minal Aidin Wal Faizin, Taqobbalallohu Minna Waminkum Taqobbal Ya Kariim
Jumat, 14 Mei 2021
KEMENANGAN 1442 H
KEMENANGAN 1442 H
Sebulan lamanya Alloh SWT menguji dengan kekurangan ekonomi. Suami tak memberi uang belanja selama 29 hari. Sekali memberi uang belanja dan itu pun sebanyak 20 ribu. Keluarga merupakan keluarga besar. Ada orang tua kandung dan keluarga kecil kami. Alhamdulillah, kekuatan dan kekayaan Alloh SWT telah terbukti pada romadhan tahun ini. Kami mampu melewati semuanya, dan Bissmillah semoga Alloh berkenan memberi kemampuan pada kesempatan berikutnya
Selasa, 20 April 2021
Lelah
Ketika lelah dengan beraneka perjuangan, akan sangat melelahkan dan bertambah sakit rasanya jika ada yang menyalahkan diri. Apalagi yang menyalahkan adalah pasangan sendiri. Dan perjuangan yang telah terajut buat pasangan tercinta. Seakan di tak menghargai lelah dan hati ini.
Disini setia dan cinta buat sang buah hati teruji. Andai ini hati bukan buatan Alloh SWT maka berpisah adalah pilihan terbaik. Buat apa mempertahankan dia yang tidak pernah menghargai jerih payah kita selama ini.
Senin, 19 April 2021
BERBAKTI
BERBAKTI
Berbakti, sebuah kata yang bagi saya adalah sesuatu yang penuh dengan juang. Misal saja berbakti pada orang tua, tentu di tengah jalan akan ditemukan perbedaan di antara keduanya. Yang terkadang, perbedaan menumbuhkan ketidak akuran antara keduanya.
Belum lagi menghadapi orang tua yang sudah renta. Dengan kondisi yang renta bahkan sakit pula. Ah, perjuangan 45 banget lho. Bisa jadi, orang yang sangat tua kondisi sakit, akan sangat membuat kita menaruh belas kasih yang teramat dalam. Karena dalam kondisi yang seperti itu, beliau sangat ikhlas bahkan tak terdengar keluhan dari lesan keriputnya. Kondisi seperti itu, justru membuat anak akan selalu berbakti dengan legowo(bahasa jawa, ikhlas). Bisa jadi berbakti si anak akan diberikan dalam wujud yang sangat baik. Dan kondisi ini mungkin bukan masuk kategori perjuangan 45. Beda lagi dengan, yang kita rawat adalah sosok yang sangat mulia. dengan renta, sakitnya, dia selalu mengeluh. Bisa jadi, anak yang merawat tidak pernah dianggap atau mungkin selalu dibanding-bandingkan. Nah, kalau seperti kasus kedua, maka ibarat perjuangan 45. Bahkan banget sekali ... hehehe.
Yang jelas, mari kita berdoa bersama, semoga kita senantiasa diberi kesehatan hingga tua. Kalau sakitpun tidak merepotkan orang lain dan kita menjadi orang tua yang benar-benar bijak dalam menghadapi anak-anak kita. Karena anak-anak adalah anak kita. Kita mengenal mereka sejak masih merah. Apa yang terjadi pada anak kita sekarang adalah hasil didikan kita.
Ya Alloh... Anugerahkan kepada kami, anak-anak yang sholeh sholehah ... Aamiin
Minggu, 18 April 2021
Berbuat baiklah
Berbuat baiklah pada setiap orang. Meski orang orang di sekitarnu membenci dia. Jangan pernah ikut ikutan benci. Karena kamu tidak tahu, mungkin dari dialah jalan Rizqi mu. Mungkin dari dialah, kebaikan kebaikan mu tercatat sangat mulia di atas sana.
Silahkan orang lain benci dia, tapi tidak dengan kita. Cintai orang lain selayaknya engkau mencintai diri sendiri.
Selasa, 13 April 2021
PUASA I NIZAM
Selasa, 13 April 2021 merupakan hari pertama umat islam di Indonesia melakukan ibadah puasa Romadhan 1442 H. Tak terkecuali kami dan ananda Nizam yang saat ini berusia 9 tahun dan sedang duduk di kelas dua MI Miftahul Ulum Pulosari Lumajang. Tak jauh beda dengan tahun kemarin. Prestasi buat kami sebagai orang tua, Ananda Nizam di ramadhan tahun kemarin hampir penuh melaksanakan puasa 30 hari. Hampir penuh karena hanya satu hari dia tidak melaksanakan puasa wajib itu. Dengan semangat yang berkobar, tahun ini dengan tekad kuatnya, dia berniat berpuasa full 30 hari, InsyaAlloh.
Namun yang menjadi fokus kali ini adalah catatan dia hari ke hari dalam menjalani ibadah suci Ramadhan 1442 H. Kali ini catatan pertama di hari pertama bulan ramadhan 1442 H adalah sebagai berikut :
Rabu, 07 April 2021
Kebersamaan yang ...
Kebersamaan yang ... Kebersamaan memang indah. Tapi saat ini seakan hambar. Sebabnya jelas banget sih. Gegara nenek yang sakit hingga semua anak dan cucu hampir setiap hari berkumpul di rumah. Bukan tidak suka, bukan tidak mau terima ... Tapi, iya gitu lah, karena setiap hari hingga privasi seakan terampas. Seakan tak ada waktu untuk urusan pribadi.
Padahal, iya meski bukan jam kerja, ada juga sih kerjaan yang harus digarap di rumah. Terkadang bukan kerjaan, tapi sekedar ingin ngobrol bareng pasangan aja jadi gak sempat. Iya, jadinya ingin banget punya privasi.
Ah, padahal baru kali ini juga nenek sakit agak lama. Kurang syukur dan kurang sabar ya ... Ya Alloh, paringi rasa syukur dan sabar yang luas pada diri ini. Aamiin
Selasa, 06 April 2021
PROFESIONAL GERBANG
Profesional! Menurut Anda, apa arti dari profesional? Hmmm, Iya... Pasti penjelasan yang amat sangat panjang dan bisa jadi penjelasan yang rumit bagi sebagian orang. Simpel saja, profesional memiliki arti bekerja atau menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada. Jika bekerja di kantor, iya bekerja sesuai tugas dan aturan yang ada di kantor. Jika di sekolah, iya jadilah pegawai sekolah yang bekerja sesuai tugas dan aturan sekolah.
Lebih spesifik lagi, saya menyebutnya dengan profesional gerbang. Dua kata yang terinspirasi ketika memasuki gerbang sekolah. Iya, saat ini syukur Alhamdulillah masih dipercaya untuk mengamalkan ilmu di salah satu MTs di Lumajang Jawa Timur. Kembali lagi pada pokok bahasan. Jadi, saat memasuki gerbang sekolah pagi hari terbersit dalam pikiran bahwa di gerbang inilah batas antara kehidupan seorang pengabdi ilmu dengan pengabdi rumah tangga. Bisa juga, di gerbang itu merupakan batas antara pengabdi negara dengan pengabdi orang tua. Iya, bisa dengan sejenis lainnya. Intinya, gerbang merupakan tempat dimana kita dituntut mampu menaruh semua urusan urusan yang ada di rumah atau tempat tinggal. Di gerbang, saatnya menyambut amanah akan tugas tugas dari sekolah.
Sehebat apapun orangnya. Setinggi apapun keilmuannya. Jika dia adalah pekerja atau pengabdi yang mencampuradukkan semua urusan, maka dijamin seratus persen, urusan tidak akan kelar dengan sempurna atau mungkin bernilai 90. Dan itulah makna yang tersirat untuk keprofesionalitas. Bisa jadi, meletakkan HP saat membuat perangkat mengajar adalah profesional. Bisa jadi, meletakkan HP saat mengajar di kelas. Tentu saja, ketika HP bukan sebagai media. Atau mungkin Profesionalitas merupakan senyum diatas semua masalah keluarga kita. Bisa jadi profesional ketika diri mampu menutup kesedihan diri ketika berbicara atau pun mengajar anak-anak. Atau mungkin, profesional ketika diri mampu mengatur waktu antara berdagang dengan mengajar atau mungkin profesional dalam memilah urusan pribadi dengan pengabdian.
Profesionalitas memang tak hanya berputar pada cara kita bekerja atau kinerja. Akan tetapi profesional merupakan sebuah ketrampilan bagaimana kemampuan diri dalam menata setiap emosi atau perasaan atau tindakan guna menghasilkan atau menuju hasil yang maksimal dan barokah.
So, belajar dan terus belajar guna mendapatkan gelar profesional adalah terbaik.
Senin, 05 April 2021
RASA APA INI
Iya, hatiku bertanya dalam keraguan. Adakah dia yang dulu pernah menjadi muridku, yang saat ini juga masih berstatus sebagai santri pengurus, telah terucap kalimat. Kalimat yang seakan menantang dan meragukan kesungguhan dari gurunya.
Kesalahan memang tidak bisa dielakkan. Iya, gurumu minta toleransimu nak! Kesalahan memang telah terjadi. Itupun tanpa unsur kesengajaan. Gurumu juga manusia biasa, penuh dengan kekurangan. Kini, statusmu sudah sama dengan gurumu, bahkan mungkin lebih tinggi kamu, nak! Kamu adalah santri pengurus, yang setiap harinya selalu mengurus anak-anak santri kecil. Dan siapapun tak meragukan lagi, pekerjaan seperti itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Ah, gurumu pun terlalu sensitif ya ... Semoga engkau selalu diberi kemuliaan dan kebahagiaan oleh Alloh SWT, Aamiin.
Rasa Apa Ini! Jawabannya, rasa sebagai manusia yang belum mampu ikhlas
KAKIKU KUAT
Indah hari ini kurasa. Sebuah keajaiban hadir di tengah-tengah perjalanan kaki sekitar 1,5 km. Tidak jauh memang, tapi bagi orang lain mungkin jarak itu adalah jarak yang melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki. Tak terkecuali aku.
Dengan niatan hati berbenah atas kesalahan yang juga bingung yang mana. Meraih hati dengan harapan, hubungan semakin baik dan mungkin lebih tepatnya semakin membaik. Hubungan yang renggang setelah pergantian jabatan. Iya, jabatan. Jabatan yang bagiku merupakan amanah yang luar biasa besarnya dalam pertanggungjawaban. Jabatan yang ketika itu aku dapat dengan garputala. Ah, awal yang sangat menggoda kekuatan hati.
Tapi benar saja, dengan kondisi motor tak ada, pulsa juga tak ada. Mau minta jemput pun terasa kehabisan cara. Akhirnya kekuatan kaki, lebih Alloh SWT pilihkan hari ini buatku. Aku bersyukur, biasanya nafas tersengal-sengal setelah perjalanan jauh nan cepat. Hari ini, luar biasa. Aku benar benar menikmati.
Dari perjalanan ini, ada satu yang terpatri dalam hati. Alloh SWT tak pernah meninggalkan hambaNya dimana pun berada dan dalam kondisi apapun. Di saat ada kelemahan pada diri maka Alloh SWT munculkan kekuatan lain yang tak lain kekuatan yang ada pada diri sendiri.
So, tetap ingat Alloh SWT dimana pun dan dalam kondisi apapun. Karena Alloh SWT maha DEKAT. Lebih dekat dari pada urat nadimu. Dan DIA tak akan sama sekali meninggalkan dirimu. Bersimpuhlah dan menangislah padaNYA ... Alloh SWT sangat sayang pada hambaNYA
Sabtu, 03 April 2021
Merawat sang TUA
Perjuangan dalam merawat orang tua yang sedang sakit. Bukan balas Budi. Karena tak ada balasan yang layak dan mampu menjadi penebus kebaikan mereka.
Senior oh senior
Senior ... Kemarin, engkau bilang aku harus bilang ketika hendak melangkah. Engkau bilang, aku harus datang ke dalem. Namun ketika aku hendak datang, ternyata engkau ada acara.
Senior ... Jika aku hendak melangkah dan itu sangat mendesak, bagaimana engkau memandang diriku
Senior ... Entah aku harus bilang apa. Aku ingin engkau paham bahwa langkahku adalah langkah yang membela mereka semua ... Langkah yang harus aku pilih dari pada engkau
NENEK TUA
Nenek Tua ... Terbaring lemah tak berdaya. Kian hari kondisi semakin melemah. Sudah tua, hanya alasan itulah yang tepat untuk menjawabnya.
Tapi, bukan masalah kondisi lemah tak berdaya. Namun seorang nenek yang pastinya telah lama hidup dan dengan segala kemampuan, dia melahirkan, merawat, membesarkan bahkan menemani hari hari dari semua anak-anaknya. Jangan kau tanya, seberapa sukseskah dia membesarkan anak-anak nya. Jangan kau tanya, jadi apa anak-anak nya sekarang. Jangan tanya, seberapa pintar dia membesarkan anak-anak nya.
Dia yang tak berilmu. Dia yang tak bisa apa-apa. Namun, dia yang telah berjasa besar pada kehidupan anak-anak nya. Jasa yang tak mungkin terbalas dengan sedolar harta anak-anak nya. Jasa yang tak mampu dibalas dengan apapun.
Hanya doa, semoga semua kebaikan nya menjadi amal pengantar dan pendamping di hari akhir. Dan semoga, semua keburukan dihapus oleh Alloh SWT ... Aamiin
Ya Alloh ... Berikanlah yang terbaik buat nenek tercinta
Jumat, 02 April 2021
FOR MY HUSBAND
Suamiku ... Aku paham betul apa tugasku sebagai seorang istri. Aku paham betul apa tugasku sebagai seorang ibu. Dan aku paham betul apa tugasku sebagai seorang menantu. Tapi ketahuilah suamiku, aku merindumu dan mengharap dirimu ada disampingku karena aku butuh pendampingan dalam menjalankan tugas-tugasku.
Aku adalah wanita yang engkau peristri. Dan aku adalah wanita yang memiliki ilmu meski tak banyak. Namun dengan sedikit ilmu aku mampu menjalankan tugasku meski jauh dari sempurna. Dan sadarilah wahai suamiku, aku adalah manusia. Manusia tempat nya salah dan dosa. Di situlah peranmu aku nanti. Jadi pendamping serta penasehat. Syukur jika engkau menjadi pembimbing.
Aku paham betul, dirimu adalah sosok lelaki yang sama denganku. Engkau pun berharap yang sama dariku. Karena kita ditakdirkan memang untuk itu. Dengan bekal yang sama-sama tidak banyak, namun diharapkan mampu untuk saling melengkapi.
Intinya, jadilah imamku. Ajak aku bicara jika aku lagi diam. Beritahu aku jika aku tidak tahu. Jadikan aku patner mesrahmu dalam perjuangan mu menggapai ridho NYA. Bersama mengantarkan buah hati kita menuju kehidupan yang terbaik dan selalu dalam ridhoNya. Bersama tersenyum melihat dan merasakan kebahagiaan anak-anak kita. Bersama dalam setiap hal adalah keindahan dalam rumah tangga. Karena suami istri adalah patner yang harus solid. Dengan begitu maka harapan indah, menjadi pribadi yang selalu diridhoi oleh Alloh SWT ... Aamiin
UMUR PANJANG
Ya Alloh ... Jika ENGKAU berkenan memanjangkan umurku hingga menjadi nenek renta. Maka berilah aku sakit yang ringan saja. Jika sakit itu merupakan pengantarku menuju kuburku maka jadikanlah sakit itu kebahagiaan buatku. Meski surga ENGKAU takdirkan di bawah telapak kakiku, mudahkanlah anak-anak ku meraih nya. Biarkan mereka meraih surga dengan bahagia tanpa harus bersusah payah merawat ku. Jadikanlah mudah pada sakaratul mautku dan jadikanlah semua amal kebaikan selama hidup menjadi teman kuburku. Serta peringan dalam hisabku. Dan jadikanlah anak-anak ku menjadi wasilah investasi yang selalu hadir dalam penantian menuju syurgaMU ... AAMIIN
Kamis, 01 April 2021
TEMAN MAKAN TEMAN
Teman makan teman. Satu kalimat yang terlontar oleh seorang teman kami. Kalimat yang terinspirasi lantaran ikan lele yang kami kelola. Iya, ikan lele yang genap 4 pekan kami kelola. Tentu saja, pengelola adalah tim yang solid dan setiap hari selalu ada waktu buat lele-lele itu. Hingga lele tumbuh menjadi besar dan sehat. Terlepas dari kondisi itu, satu kejadian di dunia perlelean adalah, adanya seekor lele yang memakan temannya. Hingga akhirnya, kedua lele mati dan mengambang ke permukaan.
Mungkin secara ilmu perlelean, itu adalah hal biasa. Namun, ada hikmah jika kita tautkan pada kehidupan sehari-hari. Jika ada teman makan teman maka keduanya akan mati. Secara jelas, contohnya apa ya? Hehehe, silahkan cari ya ...
Artinya, selagi kita bisa menghirup udara, kaki mampu melangkah, lesan mampu berucap, dan tangan mampu menggapai, berbuat baiklah kepada sesama. Apalagi kepada teman-teman kita. Mereka yang terkadang lebih mengutamakan kita dari pada keluarga. Mereka yang mengutamakan kita dari pada orang yang dicintai. So, terus berbuat baik lah!
BAHAGIA SESEDERHANA ITU!
Hari ini bisa tertawa lepas. Lepas tanpa basa basi. Lepas tanpa kepura-puraan. Lepas hingga senyum terbawa pulang. "Satu kata untuk si dia" adalah game iseng yang terlontar dan mampu mengisi sela sela waktu menanti jam pulang. Di tengah kelelahan, game itu mampu membuat kami tertawa lepas.
Tertawa yang sangat bermanfaat dan tentu saja membawa kebahagiaan diantara kami. Selama ini, tidak bahagia? Mungkin itu pertanyaan yang akan terucap jika membaca tulisan ini. Hidup kami bahagia. Tapi yang namanya hidup, adakalanya ada rasa yang kurang nyaman. Hingga mengurangi rasa bahagia yang ada. Bisa jadi saat itu terucap, aku tidak bahagia.
Sama dengan kami. Hari hari kami yang penuh dengan warna warni kehidupan. Di saat pandemi, ekonomi pun terasa kena pandemi. Kondisi keluarga pun ada yang sakit. Ada selisih paham di keluarga kami. Bahkan di lembaga kami pun tak bisa lepas dari warna warni itu. Dan kebahagiaan terasa belum komplit.
Hari ini, sebentar namun penuh makna. Sederhana namun mampu merubah suasana. Ternyata BAHAGIA SESEDERHANA ITU!
Senin, 29 Maret 2021
Sabtu, 27 Maret 2021
Ahad
Hati rasa perih. Kesalahan suami yang selalu ada di depan mata. Selalu hadir di hati. Dan semakin menyesakkan dada. Mau nangis, tapi tak ada privasi.
Hutang riba nya yang hari ini pun seakan merampas kebebasan diri untuk aktivitas. Tak boleh mengeluh, itulah sisi hati lain yang bicara. Seakan tergambar jelas, ada dua hati yang bicara.
Ah, apapun itu ... Hati ini sangat nangis dan sedih banget. Masalah suami tak terlepas dari salah saya juga. Semua orang pasti ada jatah masalah masing-masing. Yang jelas, masalah itu salah satu bentuk cinta Alloh padaku. Entah endingnya bagaimana, hanya bisa berdoa, semoga Alloh SWT selalu memberikan ridho dan penjagaan terhadap diri yang faqir.
Wahai suami, entah bagaimana akhir dari hubungan kita. Saat ini cintaku terasa hambar dan aku enggan sekali padamu. Tapi semua adalah kehendak NYA. Dan Anak adalah satu diantara yang lain yang menjadi alasan kenapa diri ini memilih berdiam. Maaf atas segala keangkuhan diri ini
Jumat, 26 Maret 2021
TAKUT MEMINTA
Harapan adalah doa yang tersampai dalam hati. Meski kadang dia muncul sekedar untuk menampakkan diri ke orang lain. Harapan terkadang menjadi sesuatu yang amat besar. Bak kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun. Ketika dia hadir maka terwujudlah menjadi sebuah doa. Doa ... Iya, semua doa akan Alloh SWT ijabah.
Kamis, 25 Maret 2021
MENGALAH
"Bu, Jadi orang jangan ngalah terus!" teringat komentar patner kerja saat itu. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah bukan berarti rendah. Tapi mengalah ada bagaimana kita meredam gejolak hati yang terkadang tercabik dengan ucapan seseorang. Jika mampu meredam gejolak hati berarti meredam amarah. Itu artinya kita menjaga diri untuk tidak menyakiti yang lain.
BELAJAR NYUNNAH DIKIT
Kamis, 18 Maret 2021
CURHAT HARI INI
Santri identik dengan sebuah kepatuhan secara total. Kepatuhan kepada sang kyai, Bu Nyai, Gus dan Neng atau mungkin sebutan lain yang ada di masyarakat. Tak perlu dipersoalkan, karena itu adalah sebuah hasil dari proses yang telah terpatri dalam qolbu. Ini hanya sebuah soal dalam hati. Pertanyaan yang mungkin bingung siapa yang berhak menjawab.
Jelasnya, ada sebuah pesantren yang kemudian membentuk sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan yang komplit. Terdiri dari Paud hingga Madrasah Aliyah. Kemudian untuk proses pendidikan lebih terarah,dibentuklah yayasan pendidikan dan sosial. Yang secara kewenangan membawahi semua lembaga pendidikan. Tak hanya itu, pondok pesantren pun berada di bawah kewenangan dari yayasan tersebut. Tanpa mengurangi penghormatan dan taqdim kepada Pak Kyai dan Bu Nyai, tetap saja urusan pendidikan tersentral kepada yayasan di bidangnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah ketika para putra dari Pak Kyai dan Bu Nyai tak lagi sependapat. Ada perbedaan di antara beliau para neng dan Gus. Yang masing-masing kukuh dengan idealismenya. Kemudian, para santri atau pemegang amanah di lembaga pendidikan akan semakin berada pada kondisi terpojok karena para pembesar saling bersikukuh dan menganggap dirinya benar. Santri yang awalnya patuh total akhirnya memudar dan bahkan terancam habis. Bukan karena rasa taqdim, tapi kepemimpinan dua arah, yang keduanya menjadi buah simalakama.
Akhirnya, dengan tetap menjunjung tinggi rasa taqdim, Para pembesar mohon Anda semua lebih intropeksi. Karena ada banyak orang yang butuh pengarahan utuh, pengarahan yang jelas dan semakin bermanfaat dalam kemajuan penerus bangsa. Tetaplah santun dalam berbicara dengan kami para awam, karena kami punya perasaan. Jika memang tersedia bidang yang menangani urusan, janganlah semua dari Anda ikut mengurusnya. Kami santri, santri karbitan yang tetap manusia, ingin dihargai, dianggap sebagai manusia seutuhnya. Dan jika telah mengamanahkan urusan kepada kami, berikan kewenangan kepada kami untuk menyelesaikannya. Cukupla Anda melihat dan sesekali memberi nasehat. Jangan anggap kami seperti kemudi yang dengan sesuka hati Anda menegemudikan kami, memutar-mutar kami. Biarlah kami menjadi pribadi yang mandiri. Mandiri dengan secara manusia yang Alloh SWT berikan. Percayalah kepada kami, kami pun punya mimpi seperti Anda semua. Dan terakhir, jika Anda masih ragu dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain, silahkan pegang sendiri semua urusan di lembaga Anda.
Senin, 01 Maret 2021
Bapak Ibu
Terima kasih Bapak
Terima kasih Ibu
Lelahmu, sakitmu bahkan sedih dan marahmu
Semua demi aku
Kini, bahagia kurasa
Dengan bekal yang engkau berikan
Aku bisa hidup dalam keterbatasan
Terbatas karena suamiku bukan yang kuharap
Kami hidup jauh dari mimpi
Penghasilan suami yang cukup untuk makan kami
Kasih sayang suami yang selalu aku terima
Namun karena khilafnya riba telah menjerat hidupnya
Hingga air mata ini jatuh setiap kali ingin ku curhat kepada kalian
Curhatku hanya manjaku ketika kecil
Kini aku adalah seorang Ibu harus dewasa dan selalu senyum di depan mu
Dalam hati ku, selalu ku panggil engkau Ibu
Dalam hati ku, selalu ku panggil Bapak
Aku sayang kalian
Aku tak mau membuat hatimu resah
Salam dari aku, anakmu yang tercantik dan semoga Sholehah.
Cintaku besar, meski terkadang kuberikan luka
Maafkan aku Bapak
Maafkan aku Ibu
Kamis, 25 Februari 2021
Rabu, 17 Februari 2021
MADRASAHKU HIJAU MADRASAHKU NYAMAN
Sabtu, 13 Februari 2021
KEPALA SEKOLAH
Menjadi seorang kepala sekolah mungkin merupakan sebuah ambisi buat seseorang. Ambisi yang harus dia dapat dengan berbagai cara. Ya memang, secara nama akan dapat nama WOW. Namun perlu dipahami, Kepala sekolah adalah seorang pemimpin dan bertanggungjawab atas semua yang terjadi di sekolahnya. Meski tidak semua harus ditanggung sendiri namun semua yang terjadi harus dipertanggungjawabkan kepada warga, atasan terkait dan secara kepada Alloh SWT
Kamis, 11 Februari 2021
Sanksi MU ya Alloh
Hari ini bisa dikatakan hari yang benar-benar super bagiku. Di hari yang sibuk, menjabat sebagai kepala sekolah. Maklum menjabat baru 4 bulan. Jadi serasa sok sibuk banget. Tapi ini adalah masa yang indah, masa bersejarah dalam hidupku. Banyak hal yang sangat nampol di hati. Hingga terkadang tangis tak tertahankan lagi.
Iya, disatu satu Alloh meninggikan derajatku sebagai kepala sekolah namun disisi lain, harus berperan ekstra dalam menghadapi para senior yang sangat ekstrem. Tak ada luka fisik, tak ada memar yang harus ku perban. Namun, banyak kata yang tergores dalam hati. Kata yang membuat air mata tak tertahan. Kata yang membuat senyum kuncup. Kata yang membuat aku serasa harus berbalik mengenang masa laluku. Kata yang menjadi stressing buat melangkah ke depan. Ini adalah jalanMU. Tak ada ambisi meraih jabatan tertinggi tapi ENGKAU berkenan. Tak ada penjilatan tapi ENGKAU angkat. Bissmilah, bersamaMU aku bisa Ya Alloh.
Di kehidupan rumah tangga, perekonomian sedang tidak membaik. Tapi saya yakin, kondisi ini wajar di saat pandemi. Di luar sana, banyak saudara-saudara yang mungkin lebih parah dari kami. Tapi, satu hal yang aku merasa Alloh sedang mengiqob, memberi sanksi atas dosa-dosa yang telah kami lakukan. Di saat seperti ini, suami harus menghadapi banyak penagihan. Suami terjebak dengan pinjaman online. Tak seberapa memang, tapi nominal itu membuat kami harus segera memutuskan satu hal. Iya, satu hal yang bisa mengantar para penagih itu pulang. Akhirnya, motor suami kami putuskan untuk dijual guna melunasi amanah-amanah yang menyesakkan.
Iya, Alhamdulillah motor suami telah terjual dan alhasil motor kami tersisa satu. Suami yang memutuskan menyambung kerja dengan grab dan saya sendiri sebagai kepala sekolah yang mobilitas sangat tinggi. Iya, air mata tak mampu tertahan lagi.
Kenyataan memang seperti itu adanya. Semuanya di luar kendali kami. Maka dengan bismilah bersamaMU ya Alloh engakau Maha Pengampun dan Engkau Maha Penyayang. Haqqul Yaqin ... Allohu shomad
Rabu, 10 Februari 2021
Tulis Aja
Bingung mau nulis apa? Bingung blognya mau diisi apa ini? Iya itulah aku saat ini. Alhasil tulis aja yang ada di benak. Dan muncullah judul "Tulis Aja" Hehehe ...
Kejadian seakan-akan sambut-menyambut hari-hariku saat ini. Mulai dari kejadian yang buat senyum merekah hingga pada hal-hal yang bikin mewek. Maklumlah emak-emak yang sudah gak mudah lagi, emosi terkadang gak mudah dikendalikan. Karena itu, perlu sekali kita memiliki teman, lingkungan atau bahkan guru yang mampu mengingatkan kita. Tak ada kesempurnaan. Itulah kita diciptakan. Maka muncul kemudian dengan makhluk sosial, iya untuk seperti itulah.
So, terus berteman dan selalu perbaiki diri. Tak ada yang salah dari mereka. Kitalah yang terkadang lupa diri, lupa jalan bahkan lupa akan kebenaran. Terus introspeksi dan menemukan jalan Alloh SWT, Insya Alloh ridhoNYA selalu kita dapat.
Lha gak nyambung blas to ... pikiran ni lagi gado-gado pake telur, nyaman enak bin lezat. Yang sepikiran dengan saya, pasti paham ... hehehe
☺☺☺
Sabtu, 30 Januari 2021
KEJAYAAN YANG TERTUNDA
Mungkin masih tertunda, atau mungkin Alloh SWT sedang mempersiapkan diri menghadapi kejayaan yang Maha Dasyat. Dan Aku berharap tak lama lagi, besok ... Iya, 24 jam lagi Aku mendapatkan semua mimpi yang selalu tersebut dalam doá-doá lirihku.
Kondisi yang benar-benar membuktikan bahwa menikah memiliki kebaikan setengah agama. Kondisi dimana senyum paksaku harus merekah di balik hatiku yang merintih. Merintih memanggil Alloh SWT. Memanggil Sang Kuasa akan segala sesuatu. Sang Kholiq yang menciptakan semuanya. Sang Maha yang telah melebarkan langit yang terkadang menyirami kami dengan air kesejukannya. Kini, Aku merintih kesakitan namun senyum yang selalu merekah. Suami yang telah di PHK mampu memberikan nafkah menuju seratus ribu perhari. Suami yang telah di PHK mampu memberikan Aku seperangkat baju muslimah lengkap, meski entah kapan. Suami yang telah di PHK mampu membelikan aku berlian di cincin jari manisku, meski saat ini hanya senyum manis yang ku terima. Suamiku yang dengan segenap harapanku, Alloh SWT segera memberi kemampuan padanya untuk memberikan yang terbaik bagiku. Senyumku merekah dengan segenap ridho yang ku nanti jatuh padaku. Segala harapan yang akan menerangi jalanku menjadi ibu terbaik buat anak-anakku, wanita pebisnis yang sukses sesuai harapan, seorang guru yang selalu dirindukan semua warga sekolah dan menjadi anak serta menantu yang selalu memberikan kebahagiaan.
Ya Alloh SWT, ENGKAU ada ... ENGKAU dekat... Aku yang banyak dosa, selalu jauh dariMU. Janganlah dosa ini menjadikan mata ini menangis terlalu lama. Jangan biarkan harapan-harapan ini menjadi hiasan semangatku. Wujudkan Ya Alloh atas semua harapanku selama ini, wujudkan semua mimpi-mimpiku selama ini... Biarkan aku selalu menyebut namaMU dalam setiap kejayaanku.. Aamiin
Minggu, 24 Januari 2021
Kamis, 21 Januari 2021
KESEMPATAN
Bukan hal yang pertama kali, mendapat kesempatan menjadi peserta workshop bahkan Diklat. Meski daftar setelah waktu deadline pendaftaran telah berakhir. Workshop ataupun diklat dan sejenisnya akan sangat dinanti kehadiran jika tema yang diusung sangat update. Bahkan, merupakan ilmu yang sangat diperlukan dalam menapaki hidup. Tanpa melihat alasan mereka menerima meski terlambat. Tapi adanya kesempatan yang diberikan merupakan hal yang perlu disyukuri.
Berbicara tentang kesempatan, seringkali kita tidak ingat bahkan tak terpikirkan bahwa dalam hidup Alloh SWT seringkali memberikan kesempatan kepada kita. Kita paham bahwa akhir cerita dari hidup kita di dunia adalah kematian. Dan kehidupan berikutnya adalah akhirat. Kehidupan akhirat merupakan kehidupan pembalasan. Iya, apapun yang telah diperbuat selama di dunia akan dirasa di akhirat.
Ibarat menabung, di akhirat adalah waktunya buka tabungan. Jikalau banyak tabungan kebaikan di dunia tentu saja akan menikmati kebaikan bahkan kemewahan di akhirat kelak. Sebaliknya jika tabungan lebih banyak tidak baiknya maka balasan yang pantas jualah yang diterima.
Kehidupan setelah tidur semalaman merupakan kesempatan yang Alloh SWT berikan kepada kita. Namun sering kali kita tak ingat bahkan melalaikan kesempatan yang ada. Padahal, sangat paham bahwa kematian bisa saja terjadi kapan pun, sering kali mendengar bahkan melihat orang meninggal dengan cepat alias mendadak. Tapi belum cukup juga untuk mengingatkan kita akan adanya kehidupan akhirat yang pasti kita rasa.
So, mari kita sambut dan terima kesempatan yang Alloh SWT berikan kepada kita dengan sebaik mungkin. Dan dengan ijinNYA, semoga kita semua diberikan umur panjang, sehat dan banyak kebaikan yang terkumpul sebagai saku menuju kehidupan akhirat.
Salam semangat
Selasa, 19 Januari 2021
WASILAH
Ya Alloh ... Untuk kesekian kalinya, anakku harus ku tinggal. Masih dengan alasan yang tetap, urusan sekolah, urusan bimbel. Ya, hari ini dia aku tinggalkan di sekolah karena aku harus mengurus buku rekening di BNI. Antrian yang banyak membuat aku juga tidak balik balik ke sekolah. Entah lagi ngapain dia di sekolah saat ini. Semoga dia selalu happy menanti bundanya yang selalu sibuk dan sering meninggalkan dia.
Harapan selalu menjadi terbaik buat anakku. Dan semoga kesibukan aku mengurus sekolah, untuk pendidikan lebih luas menjadi wasilah kesolehan anakku, tercukupi semua kebutuhan hidup keluargaku, terqobulnya semua hajatku dan selalu diberikan kemudahan serta ridho NYA dalam setiap langkah ku
Ya Alloh ... Aku haturkan mohonku padaMU. Qobulkanlah semua doaku ... Karena aku yakin ENGKAU Maha Melihat,
HARAPAN
Hmmm ... Alhamdulillah, hanya syukur yang patut dilakukan oleh semua hamba Alloh SWT. Bagaimana tidak, Alloh SWT selalu menginginkan yang terbaik buat hambaNYA. Semua fasilitas hidup telah DIA siapkan buat kita. Alloh SWT Maha Dekat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan pastinya Maha Kasih dan Sayang. Jangan pernah ragu padaNYA. Teruslah tanamkan pada dirimu Alloh SWT selalu TERBAIK.
Namun, terkadang ada sesuatu yang diluar harapan kita. Tak lain semua itu karena diri kita juga. Melalui kejadian yang tidak baik menurut kita, mungkin karena dosa dosa yang telah kita perbuat di hari kemarin. Atau mungkin juga, Alloh SWT hendak mengangkat derajat kita. Atau ada kebaikan yang luar biasa setelah itu ... Dan tentunya setelah kita lulus melewatinya.
Wal akhir ... Mari kuatkan cinta kita padaNYA. Terus berhusnudzon. Dan raihlah ridhoNYA supaya hidup kita menjadi ringan. InsyaAlloh
KRISIS ENERGY DI BULAN APRIL 2026
https://share.google/yzYoZRd8757GXvpEe Berjumpa lagi dengan aq ya .... Kali ini sedikit curhat tentang kelangkaan energy, terkhusu...
-
Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri b...
-
https://id.pngtree.com "Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jad...





