https://id.pngtree.com
"Guru itu beban negara."
Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik
jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang.
Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja
guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi
ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang
patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke
mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.
Lucunya, guru yang digaji pas-pasan
dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap
hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus
petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang
produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun
kadang hasil copy paste.
Kalau dihitung, 3 juta per hari
berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan
tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak
proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau
negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat
3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil
disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian
menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi
operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang
"ini beban hidup".
Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa
tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup,
dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR
itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban
negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya
cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.
Jadi, kalau negara masih tega
menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup
sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair
tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah
itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan
sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.
Demikian opini receh ini, semoga
bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil
menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski
kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar