Kamis, 21 Agustus 2025

Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu

 

Berbicara dunia pendidikan, orang sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan. Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya, aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan anak SMA plus bonus sabar level malaikat.

Madrasah swasta ini sangatlah unik. Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah, di sinilah kata “profesional” diuji.

Baiklah, Penulis ajak ngomongin tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid. Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut menguleni madrasah itu dari titik nol.

Sayangnya, ada dua tipe guru di madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan, sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.

Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan, tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.

Padahal, madrasah swasta butuh lebih banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c, tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi sejarah.

Menjadi guru di madrasah swasta memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang. Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.

Dan siapa tahu, kelak ketika madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari perjuangan itu.”

Karena guru sejati itu bukan numpang makan, tapi numpang berjuang.

Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

  Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...