Berbicara dunia pendidikan, orang
sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan.
Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah
naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah
swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya,
aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan
anak SMA plus bonus sabar level malaikat.
Madrasah swasta ini sangatlah unik.
Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak
bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf
berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah,
di sinilah kata “profesional” diuji.
Baiklah, Penulis ajak ngomongin
tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa
menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok
yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid.
Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang
hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut
menguleni madrasah itu dari titik nol.
Sayangnya, ada dua tipe guru di
madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling
pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan,
sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang
dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.
Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak
kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen
dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah
sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan,
tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.
Padahal, madrasah swasta butuh lebih
banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c,
tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah
kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru
berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi
sejarah.
Menjadi guru di madrasah swasta
memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi
justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang.
Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga
bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.
Dan siapa tahu, kelak ketika
madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita
bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari
perjuangan itu.”
Karena guru sejati itu bukan numpang
makan, tapi numpang berjuang.
Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar
bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan
lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar