Rabu, 20 Agustus 2025

Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional

 

Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang

Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang sering lolos dari kesadaran kita.

Pertama, lomba di sekolah mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.

Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?

Ketiga, lomba di sekolah merupakan latihan mental. Gini deh, coba kalian  bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk, disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.

Dan yang tak kalah penting, lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung, semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius yang tugasnya nagih tugas.

Jadi, kalau ada orang yang menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru! Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas, kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa, bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.

Lomba masukin sedotan ke dalam botol memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap ketawa.

 


Biodata Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha hihi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

  Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...