Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari
Lumajang
Setiap bulan Agustus,
sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade
Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung,
tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi
sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa
sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil
lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang
sering lolos dari kesadaran kita.
Pertama, lomba di sekolah
mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik
tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi
dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa
bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling
dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.
Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya
kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas
bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu
nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini
lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang
yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?
Ketiga, lomba di sekolah merupakan
latihan mental. Gini deh, coba kalian bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk,
disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu
mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih
keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut
belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa
makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.
Dan yang tak kalah penting,
lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada
geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung,
semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius
yang tugasnya nagih tugas.
Jadi, kalau ada orang yang
menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru!
Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas,
kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa,
bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.
Lomba masukin sedotan ke dalam botol
memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak
belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap
ketawa.
Biodata
Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang
pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha
hihi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar