Senin, 18 Agustus 2025

Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom

 

Sumber Gambar : https://id.pngtree.com

Ada yang bilang, sekolah zaman dulu itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang, sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys. Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain halus, supaya gak retak.

Pendidikan memang kayak tren fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop, proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana, Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada cengar-cengir.

1.      Metode Belajar

Dari Ceramah ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom mulai unstable pas lagi presentasi.

2.      Teknologi

Dari Kapur Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil, hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas lagi cari referensi tugas.

3.      Hubungan Guru-Murid

Dari Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug, apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang, hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati, terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.

4.      Tantangan

Dari Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal, sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan. Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang hoaks.

Nah itu dalamnya pendidikan yang bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka. Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini, sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk melangkah untuk masa depan lebih baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRISIS ENERGY DI BULAN APRIL 2026

          https://share.google/yzYoZRd8757GXvpEe Berjumpa lagi dengan aq ya .... Kali ini sedikit curhat tentang kelangkaan energy, terkhusu...