Sumber Gambar : https://id.pngtree.com
Ada yang bilang, sekolah zaman dulu
itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang,
sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres
gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau
dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari
Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet
kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys.
Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau
dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain
halus, supaya gak retak.
Pendidikan memang kayak tren
fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis
dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop,
proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme
wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana,
Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan
ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada
cengar-cengir.
1. Metode
Belajar
Dari Ceramah
ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu
pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru
menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar
jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan
kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca
keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom
mulai unstable pas lagi presentasi.
2. Teknologi
Dari Kapur
Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di
baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku
tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil,
hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari
materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses
kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas
lagi cari referensi tugas.
3. Hubungan
Guru-Murid
Dari
Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak
begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug,
apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal
Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat
cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang,
hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media
sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati,
terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.
4. Tantangan
Dari
Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal,
sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan.
Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang
hoaks.
Nah itu dalamnya pendidikan yang
bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di
sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu
sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang
waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan
tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak
dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka.
Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma
satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini,
sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk
melangkah untuk masa depan lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar