Jumat, 29 Agustus 2025

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

 



Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manis di telinga, tapi getir di hati. Apalagi bagi guru di sekolah swasta kecil, yang jangankan tanda jasa, gaji bulanan saja kadang masih kalah tipis sama uang jajan anak-anak sultan di sekolah sebelah.

Tapi ternyata, pekerjaan guru bukan cuma sekadar mengajar. Ada satu pekerjaan tambahan yang entah kenapa selalu menempel, yaitu: administrasi. Dari RPP, silabus, jurnal mengajar, sampai laporan kegiatan yang entah siapa yang benar-benar baca. Semua itu harus selesai, harus rapi, dan harus siap dipamerkan setiap kali ada inspeksi mendadak.

Kalau di sekolah negeri, setidaknya ada staf tata usaha atau tenaga administrasi yang bisa jadi tameng. Nah, di sekolah swasta kecil? Jangan harap. Semua diborong guru. Mau nyusun materi? Guru. Mau jadi bendahara kegiatan? Guru. Mau ngurus surat keterangan pindah murid? Tetap guru. Kalau bisa, sekolah sekalian nyuruh guru jadi satpam, tukang kebun, sampai tim konsumsi pas ada acara.

Kalau gak gitu, terjadilah jabatan rangkap, ya jadi guru ya jadi staf tata usaha. Ada juga, jadi guru jadi bendahara juga. Ada lagi, jadi guru, jadi operator juga. Bahkan, pekerjaan sekolah harus jadi pekerjaan rumah, saking banyaknya tugas, dan waktu di sekolah gak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang wow itu.

Padahal, mari kita jujur sebentar. Tugas utama guru itu mengajar. Tapi energi mereka sering habis terkuras untuk hal-hal teknis yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain. Bayangkan, habis 2 jam ngajarin matematika sambil mikirin murid yang masih bingung pecahan, guru harus lembur malamnya cuma buat ngetik laporan bulanan yang tebalnya bisa ngalahin skripsi mahasiswa S1.

Dan jangan salah, laporan itu biasanya hanya akan berakhir di tumpukan map di lemari besi kepala sekolah. Setiap kali ada pengawas datang, map itu dipamerkan seperti harta karun. Setelah itu, ditutup lagi. Guru? Ya balik lagi ke kelas dengan wajah kusut karena semalam kurang tidur.

Di titik ini, guru jadi seperti manusia serba bisa atau lebih tepatnya serba disuruh. Seringkali bukan karena mereka mau, tapi karena kondisi sekolah swasta kecil memang serba terbatas. Anggaran nggak cukup untuk menggaji tenaga administrasi, akhirnya guru yang jadi korban.

Kalau ada yang tanya, “Lho, bukannya sudah ada teknologi digital, bisa pakai aplikasi administrasi biar lebih gampang?” Jawabannya: iya, bisa. Tapi seringkali fasilitasnya nggak memadai. Laptop sekolah bisa jadi masih pakai Windows zaman Majapahit, koneksi internet sering putus nyambung kayak hubungan LDR. Jadi jangan heran kalau akhirnya banyak administrasi tetap ditulis manual.

Guru jadi kehilangan fokus pada yang seharusnya mendidik. Karena sibuk ngurus tumpukan berkas, waktu mereka untuk menyiapkan materi kreatif atau mendampingi murid secara personal malah terpangkas. Murid yang nakal butuh bimbingan? Ditunda, karena guru lagi sibuk bikin laporan kegiatan. Murid yang kesulitan memahami pelajaran? Terkadang terlewat, karena guru harus nyicil input nilai di excel biar cepat selesai.

Ironis, bukan? Pahlawan tanpa tanda jasa yang katanya tugas utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru sering lebih sibuk mencerdaskan format administrasi.

Mungkin sudah saatnya pemerintah (atau setidaknya yayasan swasta) sadar, bahwa administrasi berlebihan adalah beban yang membuat guru gagal jadi guru sepenuhnya. Kalau memang guru harus tetap menulis laporan, ya sederhanakan. Kalau bisa diserahkan ke tenaga administrasi, rekrutlah. Kalau anggaran nggak ada, ya minimal jangan menuntut berlebihan.

Karena kalau terus begini, jangan salahkan kalau banyak guru lebih lihai bikin laporan daripada bikin murid paham pelajaran. Dan itu, sayangnya, bukan kemenangan bagi pendidikan kita, melainkan kekalahan kecil yang terus berulang.

Tulisan ini, mungkin bisa menjadi koreksi bersama. Bagaimana pun juga, pendidikan merupakan factor keberhasilan atau kesuksesan sebuah Negara. Pendidikan merupakan penentu kondisi masa depan. Kalau dari hal kecil seperti ini dibiarkan, terus apa yang diharapkan dari pendidikan itu?

Guru memang sudah disejahterakan dengan berbagai tunjangan. Bukan mengeluh, tapi realitas. Semakin besar nominal tunjangan yang diberikan, semakin besar pula tuntutan yang diminta. Ah entahlah! Tapi sekali lagi, tugas guru perlu dikuatkan lagi oleh banyak pihak. Tentunya pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap kebijakan pendidikan.

Salam hormat, dari guru swasta di Lumajang

Kamis, 21 Agustus 2025

Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu

 

Berbicara dunia pendidikan, orang sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan. Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya, aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan anak SMA plus bonus sabar level malaikat.

Madrasah swasta ini sangatlah unik. Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah, di sinilah kata “profesional” diuji.

Baiklah, Penulis ajak ngomongin tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid. Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut menguleni madrasah itu dari titik nol.

Sayangnya, ada dua tipe guru di madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan, sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.

Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan, tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.

Padahal, madrasah swasta butuh lebih banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c, tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi sejarah.

Menjadi guru di madrasah swasta memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang. Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.

Dan siapa tahu, kelak ketika madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari perjuangan itu.”

Karena guru sejati itu bukan numpang makan, tapi numpang berjuang.

Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?

Rabu, 20 Agustus 2025

Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional

 

Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang

Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang sering lolos dari kesadaran kita.

Pertama, lomba di sekolah mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.

Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?

Ketiga, lomba di sekolah merupakan latihan mental. Gini deh, coba kalian  bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk, disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.

Dan yang tak kalah penting, lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung, semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius yang tugasnya nagih tugas.

Jadi, kalau ada orang yang menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru! Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas, kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa, bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.

Lomba masukin sedotan ke dalam botol memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap ketawa.

 


Biodata Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha hihi


Guru Itu Beban Negara, DPR Itu Bebek Bertelur Emas

 

https://id.pngtree.com

"Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang. Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.

Lucunya, guru yang digaji pas-pasan dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun kadang hasil copy paste.

Kalau dihitung, 3 juta per hari berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat 3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang "ini beban hidup".

Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup, dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.

Jadi, kalau negara masih tega menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.

Demikian opini receh ini, semoga bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.

Senin, 18 Agustus 2025

Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom

 

Sumber Gambar : https://id.pngtree.com

Ada yang bilang, sekolah zaman dulu itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang, sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys. Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain halus, supaya gak retak.

Pendidikan memang kayak tren fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop, proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana, Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada cengar-cengir.

1.      Metode Belajar

Dari Ceramah ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom mulai unstable pas lagi presentasi.

2.      Teknologi

Dari Kapur Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil, hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas lagi cari referensi tugas.

3.      Hubungan Guru-Murid

Dari Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug, apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang, hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati, terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.

4.      Tantangan

Dari Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal, sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan. Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang hoaks.

Nah itu dalamnya pendidikan yang bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka. Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini, sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk melangkah untuk masa depan lebih baik.


Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

  Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...