CERITA_HATI, iyup Blog ini bertujuan untuk mengeluarkan uneg-uneg, biar tidak jadi kuman dalam perut. Perut kembung jadi plong, dada sakit bisa terobati dengan menulis, appa iya??? Dah pokoknya untuk teman-teman yang bertemu dengan blog ini, jangan lupa komentar ya, kita saling support. Karena saya yakin, temen-temen punya uneg-uneg juga
Selasa, 07 April 2026
KRISIS ENERGY DI BULAN APRIL 2026
Jumat, 29 Agustus 2025
Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa
Ada satu istilah klasik yang sering
banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manis di
telinga, tapi getir di hati. Apalagi bagi guru di sekolah swasta kecil, yang
jangankan tanda jasa, gaji bulanan saja kadang masih kalah tipis sama uang
jajan anak-anak sultan di sekolah sebelah.
Tapi ternyata, pekerjaan guru bukan
cuma sekadar mengajar. Ada satu pekerjaan tambahan yang entah kenapa selalu
menempel, yaitu: administrasi. Dari RPP, silabus, jurnal mengajar, sampai
laporan kegiatan yang entah siapa yang benar-benar baca. Semua itu harus
selesai, harus rapi, dan harus siap dipamerkan setiap kali ada inspeksi
mendadak.
Kalau di sekolah negeri, setidaknya
ada staf tata usaha atau tenaga administrasi yang bisa jadi tameng. Nah, di
sekolah swasta kecil? Jangan harap. Semua diborong guru. Mau nyusun materi?
Guru. Mau jadi bendahara kegiatan? Guru. Mau ngurus surat keterangan pindah
murid? Tetap guru. Kalau bisa, sekolah sekalian nyuruh guru jadi satpam, tukang
kebun, sampai tim konsumsi pas ada acara.
Kalau gak gitu, terjadilah jabatan
rangkap, ya jadi guru ya jadi staf tata usaha. Ada juga, jadi guru jadi
bendahara juga. Ada lagi, jadi guru, jadi operator juga. Bahkan, pekerjaan
sekolah harus jadi pekerjaan rumah, saking banyaknya tugas, dan waktu di
sekolah gak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang wow itu.
Padahal, mari kita jujur sebentar.
Tugas utama guru itu mengajar. Tapi energi mereka sering habis terkuras
untuk hal-hal teknis yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain. Bayangkan,
habis 2 jam ngajarin matematika sambil mikirin murid yang masih bingung
pecahan, guru harus lembur malamnya cuma buat ngetik laporan bulanan yang
tebalnya bisa ngalahin skripsi mahasiswa S1.
Dan jangan salah, laporan itu
biasanya hanya akan berakhir di tumpukan map di lemari besi kepala sekolah.
Setiap kali ada pengawas datang, map itu dipamerkan seperti harta karun.
Setelah itu, ditutup lagi. Guru? Ya balik lagi ke kelas dengan wajah kusut
karena semalam kurang tidur.
Di titik ini, guru jadi seperti
manusia serba bisa atau lebih tepatnya serba disuruh. Seringkali bukan karena
mereka mau, tapi karena kondisi sekolah swasta kecil memang serba terbatas.
Anggaran nggak cukup untuk menggaji tenaga administrasi, akhirnya guru yang
jadi korban.
Kalau ada yang tanya, “Lho, bukannya
sudah ada teknologi digital, bisa pakai aplikasi administrasi biar lebih
gampang?” Jawabannya: iya, bisa. Tapi seringkali fasilitasnya nggak memadai.
Laptop sekolah bisa jadi masih pakai Windows zaman Majapahit, koneksi internet sering
putus nyambung kayak hubungan LDR. Jadi jangan heran kalau akhirnya banyak
administrasi tetap ditulis manual.
Guru jadi kehilangan fokus pada yang
seharusnya mendidik. Karena sibuk ngurus tumpukan berkas, waktu mereka untuk
menyiapkan materi kreatif atau mendampingi murid secara personal malah
terpangkas. Murid yang nakal butuh bimbingan? Ditunda, karena guru lagi sibuk
bikin laporan kegiatan. Murid yang kesulitan memahami pelajaran? Terkadang
terlewat, karena guru harus nyicil input nilai di excel biar cepat selesai.
Ironis, bukan? Pahlawan tanpa tanda
jasa yang katanya tugas utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru sering
lebih sibuk mencerdaskan format administrasi.
Mungkin sudah saatnya pemerintah
(atau setidaknya yayasan swasta) sadar, bahwa administrasi berlebihan adalah
beban yang membuat guru gagal jadi guru sepenuhnya. Kalau memang guru harus
tetap menulis laporan, ya sederhanakan. Kalau bisa diserahkan ke tenaga
administrasi, rekrutlah. Kalau anggaran nggak ada, ya minimal jangan menuntut
berlebihan.
Karena kalau terus begini, jangan
salahkan kalau banyak guru lebih lihai bikin laporan daripada bikin murid paham
pelajaran. Dan itu, sayangnya, bukan kemenangan bagi pendidikan kita, melainkan
kekalahan kecil yang terus berulang.
Tulisan ini, mungkin bisa menjadi
koreksi bersama. Bagaimana pun juga, pendidikan merupakan factor keberhasilan
atau kesuksesan sebuah Negara. Pendidikan merupakan penentu kondisi masa depan.
Kalau dari hal kecil seperti ini dibiarkan, terus apa yang diharapkan dari
pendidikan itu?
Guru memang sudah disejahterakan
dengan berbagai tunjangan. Bukan mengeluh, tapi realitas. Semakin besar nominal
tunjangan yang diberikan, semakin besar pula tuntutan yang diminta. Ah entahlah!
Tapi sekali lagi, tugas guru perlu dikuatkan lagi oleh banyak pihak. Tentunya
pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap kebijakan pendidikan.
Salam hormat, dari guru swasta di
Lumajang
Kamis, 21 Agustus 2025
Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu
Berbicara dunia pendidikan, orang
sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan.
Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah
naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah
swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya,
aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan
anak SMA plus bonus sabar level malaikat.
Madrasah swasta ini sangatlah unik.
Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak
bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf
berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah,
di sinilah kata “profesional” diuji.
Baiklah, Penulis ajak ngomongin
tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa
menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok
yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid.
Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang
hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut
menguleni madrasah itu dari titik nol.
Sayangnya, ada dua tipe guru di
madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling
pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan,
sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang
dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.
Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak
kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen
dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah
sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan,
tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.
Padahal, madrasah swasta butuh lebih
banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c,
tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah
kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru
berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi
sejarah.
Menjadi guru di madrasah swasta
memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi
justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang.
Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga
bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.
Dan siapa tahu, kelak ketika
madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita
bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari
perjuangan itu.”
Karena guru sejati itu bukan numpang
makan, tapi numpang berjuang.
Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar
bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan
lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?
Rabu, 20 Agustus 2025
Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional
Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari
Lumajang
Setiap bulan Agustus,
sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade
Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung,
tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi
sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa
sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil
lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang
sering lolos dari kesadaran kita.
Pertama, lomba di sekolah
mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik
tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi
dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa
bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling
dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.
Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya
kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas
bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu
nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini
lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang
yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?
Ketiga, lomba di sekolah merupakan
latihan mental. Gini deh, coba kalian bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk,
disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu
mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih
keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut
belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa
makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.
Dan yang tak kalah penting,
lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada
geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung,
semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius
yang tugasnya nagih tugas.
Jadi, kalau ada orang yang
menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru!
Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas,
kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa,
bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.
Lomba masukin sedotan ke dalam botol
memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak
belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap
ketawa.
Biodata
Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang
pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha
hihi
Guru Itu Beban Negara, DPR Itu Bebek Bertelur Emas
https://id.pngtree.com
"Guru itu beban negara."
Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik
jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang.
Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja
guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi
ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang
patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke
mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.
Lucunya, guru yang digaji pas-pasan
dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap
hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus
petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang
produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun
kadang hasil copy paste.
Kalau dihitung, 3 juta per hari
berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan
tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak
proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau
negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat
3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil
disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian
menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi
operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang
"ini beban hidup".
Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa
tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup,
dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR
itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban
negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya
cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.
Jadi, kalau negara masih tega
menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup
sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair
tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah
itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan
sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.
Demikian opini receh ini, semoga
bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil
menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski
kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.
Senin, 18 Agustus 2025
Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom
Sumber Gambar : https://id.pngtree.com
Ada yang bilang, sekolah zaman dulu
itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang,
sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres
gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau
dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari
Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet
kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys.
Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau
dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain
halus, supaya gak retak.
Pendidikan memang kayak tren
fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis
dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop,
proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme
wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana,
Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan
ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada
cengar-cengir.
1. Metode
Belajar
Dari Ceramah
ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu
pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru
menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar
jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan
kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca
keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom
mulai unstable pas lagi presentasi.
2. Teknologi
Dari Kapur
Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di
baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku
tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil,
hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari
materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses
kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas
lagi cari referensi tugas.
3. Hubungan
Guru-Murid
Dari
Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak
begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug,
apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal
Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat
cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang,
hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media
sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati,
terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.
4. Tantangan
Dari
Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal,
sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan.
Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang
hoaks.
Nah itu dalamnya pendidikan yang
bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di
sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu
sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang
waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan
tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak
dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka.
Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma
satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini,
sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk
melangkah untuk masa depan lebih baik.
Minggu, 06 Oktober 2024
KEINGINAN JELANG TIDUR
Jangan tanya ya, kenapa? Karena mata sebenarnya tinggal 5 Watt tapi keinginan masih 100 persen.
Dan entah dari mana, saat ini butuh sekali 3 barang itu.
Bismillah, Allohumma sholli Aala sayyidina Muhammad, kuasa Alloh SWT, Insyaallah atas ijinnya, aku besok akan dapat kabar gembira dan dapat apa yang aku inginkan, aamiin
Sabtu, 05 Maret 2022
SYAITHON
"Tugas syaithon adalah menggoda manusia hingga ia tergelincir kepada jalan-jalan yang tidak diridhoi oleh Alloh SWT. Nah, kalau tugas syaithon sekedar menggoda sementara pelaksana dari godaan syaithon adalah manusia. Maka manusia bisa disebut adalah BAPAKnya syaithon." Ustadz Danu
Jleb banget bukan? ternyata jika kita tergoda dan melaksanakan godaan syaithon, maka kita lebih parah dari syaithon.
Semoga kita dilindungi dari godaan syaithon ya ... Aamiin
Jumat, 18 Februari 2022
SALAH PILIH
Rabu, 16 Februari 2022
ALASAN
Foto : Depan masjid KH. Hamid Pasuruan
Foto diambil setelah kegiatan silaturahmi ke rumah salah satu keluarga besar yang kami anggap kaya dari segi finansial. Ternyata, iya emang mereka sangat kaya. Alhamdulillah, semoga Rizqi mereka senantiasa melimpah dan berkah. Aamiin
Terlepas dari kekayaan mereka, ada alasan yang kuat bagi kami untuk hadir di tengah-tengah mereka. Yang jika diukur jarak, Lumajang Pasuruan lumayan tidak dekat. Apalagi sepulang dari sana, badan greges mulai hadir dalam diri kami. Ada alasan yang kuat, ada tujuan mulia di dalamnya. Hingga semangat kami berangkat.
Alasan tidak bisa dilepas dari kehidupan kita bahkan siapapun juga. Dengan alasan, kita mampu bangkit semangat. Dengan alasan, bisa juga kita jauh dari semangat. Bahkan dengan alasan pula, manusia akan menjadi terhormat, mulia. Dengan alasan, manusia bisa menjadi tidak mulia.
Alasan akan setia dalam mendampingi kita menjalani alur kehidupan. Hanya kita lah yang harus mampu, menempatkan alasan di tempat yang tepat hingga alasan itu membuahkan kebaikan buat kita dan orang sekitar.
Selamat berkarya
Minggu, 16 Januari 2022
Penantian
Menanti kabar gembira yang diharapkan bagaikan menanti kabar dari sang kekasih yang lama tak bersua
Rabu, 08 September 2021
Rabu, 8 September 2021
Sedikit catatan untuk pengingat. Lain waktu akan diulas lebih lama disini
catatan hari ini :
1. Keegoan yang menutup rasa kemanusiaan. Tidak memanusiakan manusia. Dengan membawa kata umik (ibu seorang Bu Nyai) maka semua apa kata BOS. Mengganti dengan waktu konfirmasi satu menit. TAKTIK! (USTADZAH ANA)
2. Kenyataan belum sesuai harapan. Berharap bisa mengantar pulang anak-anak tepat waktu ternyata karet hingga dua jam setengah... Oh! (ANANG)
3. Berbincang sekedar untuk menjawab. Sambil menunggu jemputan yang dinanti. Bincang-bincang sekaligus taaruf ternyata sekedar di mulut saja. Diluar sana, engkau marah...Ah!(DIMAS)
Minggu, 05 September 2021
Sendiri-sendiri
Hari ini, 5 September 2021. Ada rasa yang tak bisa dipendam. Ada rasa yang yang yang tak bisa diam. "Kewajiban suami adalah menafkahi keluarga, jika tidak mampu maka lebih baik hidup sendiri-sendiri", kalimat yang terucap dari lisan seorang istri yang telah berusaha bersikap sabar. Kesabaran yang ternyata tak bisa bertahan karena tuntutan hidup yang kian meronta.
Tuntutan hidup yang kian meronta seakan menutup rapat tabir bagaimana dengan hak seorang anak. Iya, buah hati kami. Dia punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah maupun bundanya. Tapi, iya sekali lagi ... Istri bukanlah suatu makhluk yang sempurna. Dalam arti, dia menjadi seorang ibu, istri, wanita karir yang kemudian juga menjadi tulang punggung keluarga. Jika memang demikian, sangatlah tidak ringan tugas nya. Jika demikian, lalu dimanakah peran seorang suami? Jika demikian yang terjadi, salahkah seorang istri menuntut cerai kepada suaminya. Jika demikian itu, salahkah seorang Bunda ingin mendidik putra semata wayangnya seorang diri?
Jika ditanya, adakah rasa cinta sama suami? Pastinya ada, tapi hitungannya sangat kecil dibandingkan dengan tuntutan hidup. Jikalau suami tak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, lalu dimanakah kebahagiaan sang istri. Istri bahagia akan ada anak yang HEBAT.
Salam dari aku, istri yang hari ini berani berucap dengan mata berurai air mata
Senin, 23 Agustus 2021
PEMBINA ALA ANDA
Bu, Jika Anda adalah pembina dan kami adalah binaan. Lebih tepatnya, saya adalah binaan Anda. Maka binalah saya tanpa harus emosi. Binalah saya dengan berhusnudzon. Saya adalah orang baru di bidang saya. Saya butuh bimbingan bukan amarah. Saya butuh support bukan ungkitan kesalahan yang lalu. Saya baru menjabat secara PJS 3 bulan. Dan resmi selama 6 bulan. Kalimat yang Anda ucapkan seperti saya sudah menjabat bertahun-tahun. Mana peran Anda sebagai pembina?
Sebagai pembina, Anda sendiri yang menyebut dalam rapat kemarin, sabtu 21 Agustus 2021. Sadar atau tidak, itulah kata yang menancap di otak saya. Karena itu pula mungkin yang menjadi alasan, Anda tidak mau masuk ke ruangan kantor. Iya, sebagai pembina akan datang jika diundang dan diperlukan. Perlu diingat, secara struktural Anda adalah bawahan saya. Dan Anda dibayar karena kerja Anda. Bukan sebagai penasehat. Kerja! sudah tentu harus masuk kantor, meski sekedar bersapa dengan teman sejawat. Sekali lagi, Anda dibayar karena kerja Anda. Jika bekerja tidak sesuai dengan aturan yang ada, silahkan bebas bersikap. Tapi Demi Alloh ... saya tidak Ridho dengan sikap Anda. Sekali lagi sebagai pimpinan, saya tidak Ridho!
Iya, tempat bekerja Anda. Tempat Anda mendapatkan rizqi adalah milik Mertua Anda. Tapi bukan berarti ANda bersikap semaunya sendiri. Its oke, dimata Anda saya adalah orang yang banyak berhutang budi kepada Anda. Semua jabatan dan rizki yang berlimpah terdapat peran Anda. Iya, ada tanda tangan yang memang menunjang semuanya. Tapi saya pun mendapatkan tanda tangan Anda dengan keringat yang deras. Air mata yang jarang Anda pedulikan. Sering hati tercabik karena kalimat Anda yang pedas.
Sekarang, saya adalah pimpinan Anda. Maka jika saya diam bukan berarti saya ridho. Semuanya ada balasan. Saya tak berhak membalas sikap Anda. Hanya Alloh SWT yang akan menangani Anda. Oke ... Terima kasih!
Halo para reader! Rangkaian kalimat diatas merupakan curhatan seorang pemimpin baru. Pemimpin baru hasil dari perpecahan senior yang notabene para pembesar agamis dan berdarah biru. Ini merupakan luapan emosi yang tak mampu tertuang di dunia nyata. Karena sadar betul, si curhater adalah seorang plegmatis. CINTA DAMAI.
Rabu, 11 Agustus 2021
Kamis, 12 Agustus 2021
Menjadi seorang pemimpin tak gampang. Mengendalikan patner bukanlah tugas seorang pemimpin. Pemimpin hanyalah menyatukan suara, pendapat sehingga menjadi tim yang solid. Jika ada patner yang suara tak satu. Sometime mereka bersuara A, lain waktu mereka bersuara B tentu sangat menyiksa batin pemimpin. Dan pastinya apa yang telah tersampai belum menyatu dan terpatri dalam diri mereka, sang patner. Maka berpasrahlah dan serahkan patner Anda kepada Alloh SWT. Sabar dan teruslah perbanyak sholat. Sampaikan kepada Alloh SWT apa yang menjadi gundah gulana di anatara hubunganmu dengan mereka. Alloh Maha Melihat. Maha Mengetahui. Tetaplah semangat ... Kembalikan pada tujuan awal bahwa engkau berjuang untuk anak-anak, generasi penerus islam, generasi penerus bangsa.
Selasa, 15 Juni 2021
Hati yang tak sehat
Hati yang tak sehat maka semua yang ada di depannya akan terlihat tidak baik. Hati yang tak sehat akan menghasilkan kata kata yang tidak baik pula. Sehingga tak jarang orang lain akan merasa tersakiti oleh seseorang yang memiliki hati tak sehat.
Orang lain yang tersakiti karena ucapan lesan tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan bisa jadi kata kata yang dia dengar akan membuat luka yang amat dalam. Luka yang akan dia bawa hingga akhirnya tidak mudah memaafkan.
Maka jaga hati kita, bahagiakan hati terlebih dahulu. Setelah itu bercengkrama dengan orang lain ...
Nasehat untuk saya pribadi ... Salam santun
Senin, 31 Mei 2021
BERHARAP
Berharap sering kali salah tempat. Kali ini pun, saat pikiran full dan dominan mikir si dia yang always mendampingi hidupku, eh malah sepertinya dia cuek banget sama aku. Ah, suamiku ... Aku belum paham bahasa cintamu
Minggu, 30 Mei 2021
BAGI BAGI
Bagi bagi ... Ayuk kita bagi bagi! Eits, bukan bagi bagi kue ya ... Melainkan bagi bagi tugas. Dengan berbagi tugas maka tugas akan lebih ringan. Dan pastinya lebih teratur dan bisa selesai tepat waktu. Tentu saja, dengan selalu memperhatikan tupoksi masing-masing.
Setelah itu, ajak teman atau pantner kerja untuk bisa melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin.
Rabu, 19 Mei 2021
JIWA SOSIAL
Idul Fitri 1442 H, hari ini merupakan hari ketujuh berlebaran. Meski begitu, tak menyurutkan langkah kami untuk terus bersilaturrohmi ke sanak saudara dan teman. Entah apa sebab, lebaran kali ini serasa semangat sekali untuk unjung-unjung. Yang pasti ketika berada di jalan, berbincang santai dan tertawa lepas benar-benar melepas segala pikiran yang lumayan mengganjal. Bisa dibilang, silaturrohim kali ini benar-benar refreshing yang mantap.
Dari satu rumah ke rumah lain, dari topik satu ke topik lain, ada satu topik pembicaraan yang mengena sekali. Hingga kepikiran sampai rumah. Dan tak sabar menuliskannya di blog ini. Yakni tentang jiwa sosial salah satu saudara kami. Iya, dari ceritanya, ku simpulkan dia adalah aktivis sosial. Bagaimana tidak, pagi sebagai kepala PAUD. Sore hari mengajar mengaji di rumahnya. Dan setiap tiga bulan sekali ada rutinitas donor darah. Enjoy... itu yang aku amati. Dia menjalani hidup dengan nikmat. Semuanya berjalan tanpa harus perhitungan dengan angka rupiah. Sepertinya, itulah salah satu sebab rezekinya mengalir bak air sungai.
Tak dipungkiri, sepasang suami istri yang ada di cerita tersebut memang berasal dari keluarga berada. Berasal dari keluarga yang secara ekonomi sudah mapan. Tapi kembali lagi, bermodal sebesar apapun jika pemegang tak mampu mengendalikannya maka tak akan pernah bertambah. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Rezki memang sudah tertakar. Namun tak ada yang tahu berapa takaran rezeki untuk kita. Yang perlu diketahui adalah semakin banyak mengeluarkan untuk membahagiakan orang lain maka bersamaan itu pula rezeki akan masuk ke diri dan keluarga kita.
Oleh karena itu, berbagi itu sangat penting. Berbagi tidak harus bentuk rupiah. Apapun yang bisa kita berikan, maka bagikan. Dan terpenting lagi, keikhlasan tanpa peduli dengan rupiah, sangat berdampak buat diri kita. Tak hanya itu, semua kebaikan yang kita tabur maka kebaikan pula yang akan kita panen.
Yuk selamat idul fitri 1442 H berarti semangat untuk berbagi. Salam Minal Aidin Wal Faizin, Taqobbalallohu Minna Waminkum Taqobbal Ya Kariim
Jumat, 14 Mei 2021
KEMENANGAN 1442 H
KEMENANGAN 1442 H
Sebulan lamanya Alloh SWT menguji dengan kekurangan ekonomi. Suami tak memberi uang belanja selama 29 hari. Sekali memberi uang belanja dan itu pun sebanyak 20 ribu. Keluarga merupakan keluarga besar. Ada orang tua kandung dan keluarga kecil kami. Alhamdulillah, kekuatan dan kekayaan Alloh SWT telah terbukti pada romadhan tahun ini. Kami mampu melewati semuanya, dan Bissmillah semoga Alloh berkenan memberi kemampuan pada kesempatan berikutnya
KRISIS ENERGY DI BULAN APRIL 2026
https://share.google/yzYoZRd8757GXvpEe Berjumpa lagi dengan aq ya .... Kali ini sedikit curhat tentang kelangkaan energy, terkhusu...
-
Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri b...
-
https://id.pngtree.com "Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jad...




