Jumat, 29 Agustus 2025

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

 



Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manis di telinga, tapi getir di hati. Apalagi bagi guru di sekolah swasta kecil, yang jangankan tanda jasa, gaji bulanan saja kadang masih kalah tipis sama uang jajan anak-anak sultan di sekolah sebelah.

Tapi ternyata, pekerjaan guru bukan cuma sekadar mengajar. Ada satu pekerjaan tambahan yang entah kenapa selalu menempel, yaitu: administrasi. Dari RPP, silabus, jurnal mengajar, sampai laporan kegiatan yang entah siapa yang benar-benar baca. Semua itu harus selesai, harus rapi, dan harus siap dipamerkan setiap kali ada inspeksi mendadak.

Kalau di sekolah negeri, setidaknya ada staf tata usaha atau tenaga administrasi yang bisa jadi tameng. Nah, di sekolah swasta kecil? Jangan harap. Semua diborong guru. Mau nyusun materi? Guru. Mau jadi bendahara kegiatan? Guru. Mau ngurus surat keterangan pindah murid? Tetap guru. Kalau bisa, sekolah sekalian nyuruh guru jadi satpam, tukang kebun, sampai tim konsumsi pas ada acara.

Kalau gak gitu, terjadilah jabatan rangkap, ya jadi guru ya jadi staf tata usaha. Ada juga, jadi guru jadi bendahara juga. Ada lagi, jadi guru, jadi operator juga. Bahkan, pekerjaan sekolah harus jadi pekerjaan rumah, saking banyaknya tugas, dan waktu di sekolah gak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang wow itu.

Padahal, mari kita jujur sebentar. Tugas utama guru itu mengajar. Tapi energi mereka sering habis terkuras untuk hal-hal teknis yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain. Bayangkan, habis 2 jam ngajarin matematika sambil mikirin murid yang masih bingung pecahan, guru harus lembur malamnya cuma buat ngetik laporan bulanan yang tebalnya bisa ngalahin skripsi mahasiswa S1.

Dan jangan salah, laporan itu biasanya hanya akan berakhir di tumpukan map di lemari besi kepala sekolah. Setiap kali ada pengawas datang, map itu dipamerkan seperti harta karun. Setelah itu, ditutup lagi. Guru? Ya balik lagi ke kelas dengan wajah kusut karena semalam kurang tidur.

Di titik ini, guru jadi seperti manusia serba bisa atau lebih tepatnya serba disuruh. Seringkali bukan karena mereka mau, tapi karena kondisi sekolah swasta kecil memang serba terbatas. Anggaran nggak cukup untuk menggaji tenaga administrasi, akhirnya guru yang jadi korban.

Kalau ada yang tanya, “Lho, bukannya sudah ada teknologi digital, bisa pakai aplikasi administrasi biar lebih gampang?” Jawabannya: iya, bisa. Tapi seringkali fasilitasnya nggak memadai. Laptop sekolah bisa jadi masih pakai Windows zaman Majapahit, koneksi internet sering putus nyambung kayak hubungan LDR. Jadi jangan heran kalau akhirnya banyak administrasi tetap ditulis manual.

Guru jadi kehilangan fokus pada yang seharusnya mendidik. Karena sibuk ngurus tumpukan berkas, waktu mereka untuk menyiapkan materi kreatif atau mendampingi murid secara personal malah terpangkas. Murid yang nakal butuh bimbingan? Ditunda, karena guru lagi sibuk bikin laporan kegiatan. Murid yang kesulitan memahami pelajaran? Terkadang terlewat, karena guru harus nyicil input nilai di excel biar cepat selesai.

Ironis, bukan? Pahlawan tanpa tanda jasa yang katanya tugas utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru sering lebih sibuk mencerdaskan format administrasi.

Mungkin sudah saatnya pemerintah (atau setidaknya yayasan swasta) sadar, bahwa administrasi berlebihan adalah beban yang membuat guru gagal jadi guru sepenuhnya. Kalau memang guru harus tetap menulis laporan, ya sederhanakan. Kalau bisa diserahkan ke tenaga administrasi, rekrutlah. Kalau anggaran nggak ada, ya minimal jangan menuntut berlebihan.

Karena kalau terus begini, jangan salahkan kalau banyak guru lebih lihai bikin laporan daripada bikin murid paham pelajaran. Dan itu, sayangnya, bukan kemenangan bagi pendidikan kita, melainkan kekalahan kecil yang terus berulang.

Tulisan ini, mungkin bisa menjadi koreksi bersama. Bagaimana pun juga, pendidikan merupakan factor keberhasilan atau kesuksesan sebuah Negara. Pendidikan merupakan penentu kondisi masa depan. Kalau dari hal kecil seperti ini dibiarkan, terus apa yang diharapkan dari pendidikan itu?

Guru memang sudah disejahterakan dengan berbagai tunjangan. Bukan mengeluh, tapi realitas. Semakin besar nominal tunjangan yang diberikan, semakin besar pula tuntutan yang diminta. Ah entahlah! Tapi sekali lagi, tugas guru perlu dikuatkan lagi oleh banyak pihak. Tentunya pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap kebijakan pendidikan.

Salam hormat, dari guru swasta di Lumajang

Kamis, 21 Agustus 2025

Guru Madrasah Swasta, Antara Pejuang dan Penumpang Perahu

 

Berbicara dunia pendidikan, orang sering menyorot sekolah negeri atau madrasah negeri yang dianggap sudah mapan. Padahal, di gang-gang kecil, masih banyak sekolah atau madrasah swasta di bawah naungan yayasan yang masih berjuang dengan segala keterbatasan, ada madrasah swasta yang hidupnya tak kalah dramatis dari sinetron “Ikatan Cinta.” Bedanya, aktornya bukan Amanda Manopo, melainkan guru-guru dengan gaji setara uang jajan anak SMA plus bonus sabar level malaikat.

Madrasah swasta ini sangatlah unik. Di satu sisi, mereka jadi penopang pendidikan masyarakat yang mungkin tidak bisa tertampung di sekolah negeri. Di sisi lain, mereka masih dalam taraf berkembang, baik dari segi sarana, prasarana, maupun kualitas kelembagaan. Nah, di sinilah kata “profesional” diuji.

Baiklah, Penulis ajak ngomongin tentang profesional, versi gang kecil. Profesional itu bukan sekadar bisa menjelaskan integral sambil ngopi lengkap dengan sebulan-sebulan asap rokok yang dipermainkan atau paham cara ngajar anak-anak ngaji tanpa salah tajwid. Profesional itu soal bagaimana guru bisa melihat dirinya bukan sekadar “numpang hidup” di lembaga, tapi benar-benar merasa ikut punya, ikut membesarkan, ikut menguleni madrasah itu dari titik nol.

Sayangnya, ada dua tipe guru di madrasah swasta. Pertama, tipe pejuang. Mereka ini yang rela datang paling pagi, pulang paling sore, masih sempat nyapu kelas, bikin proposal bantuan, sampai ngurus lomba 17-an. Kalau madrasah diibaratkan kapal, mereka ini yang dayungnya tak pernah berhenti, meski air laut asin sudah bikin kulit panas dan perih.

Tipe kedua, guru numpang. Maaf, agak kasar, tapi memang begitu adanya. Mereka mengajar ala kadarnya, sering absen dengan seribu satu alasan, dan merasa madrasah hanyalah tempat singgah sementara sebelum dapat sekolah “yang lebih jelas.” Kalau ada kegiatan, tiba-tiba jadi ninja, hilang tanpa jejak.

Padahal, madrasah swasta butuh lebih banyak tipe pertama. Butuh sosok yang bukan cuma menyampaikan materi a, b dan c, tapi juga punya kepekaan sosial, punya komitmen, dan kesadaran bahwa madrasah kecil ini sedang dibangun dengan peluh banyak orang. Karena kalau semua guru berpikir ala numpang, madrasah swasta ini lama-lama bisa gulung tikar dan jadi sejarah.

Menjadi guru di madrasah swasta memang bukan jalan tol. Ini jalan berbatu, penuh lubang, kadang ban bocor. Tapi justru di situlah bedanya, yang bertahan bukan sekadar pekerja, tapi pejuang. Orang-orang yang sadar bahwa mendidik bukan cuma soal transfer ilmu, tapi juga bagian dari perjuangan membesarkan lembaga.

Dan siapa tahu, kelak ketika madrasah ini berkembang, jadi maju, punya gedung megah, fasilitas lengkap, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga, “Oh iya, dulu saya bagian dari perjuangan itu.”

Karena guru sejati itu bukan numpang makan, tapi numpang berjuang.

Biodata Penulis :
Penulis tinggal di Lumajang. Mengajar di madrasah swasta sambil terus belajar bagaimana jadi guru yang tak sekadar ngasih materi, tapi juga ikut membesarkan lembaganya. Belajar Sambil bermimpi di gaji 3 juta per hari, bagaimana caranya?

Rabu, 20 Agustus 2025

Lomba Masukin Sedotan ke dalam Botol, Bukan Sekadar Mulut Manyun, tapi Pendidikan Karakter Nasional

 

Sumber gmb : Dokumentasi lomba 17-an MTs Miftahul Ulum Pulosari Lumajang

Setiap bulan Agustus, sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri berubah jadi arena “Olimpiade Rakyat.” Dari lomba masukin sedotan, masukin paku, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, sampai joget balon—semua jadi tontonan sekaligus hiburan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap remeh alias gak penting. Ya masa sih pendidikan karakter bangsa ditempa lewat lomba gigit sendok sambil lari-lari? Tapi percaya deh, lomba-lomba itu justru punya pengaruh positif yang sering lolos dari kesadaran kita.

Pertama, lomba di sekolah mengajarkan anak-anak tentang sportivitas. Kita tahu kan, di lomba tarik tambang, selalu ada tim yang kalah telak sampai jatuh berantakan di tanah. Tapi dari situ anak-anak belajar kalau kalah itu bukan kiamat. Besok masih bisa bangkit, mandi, terus main lagi. Nilai seperti ini lebih mengena ke hati paling dalam ketimbang sekadar mendengar ceramah “jangan menyerah” dari guru BK.

Kedua, lomba juga mengajarkan pentingnya kerjasama. Bayangkan balap karung estafet, kalau satu peserta jatuh dan malas bangun, habis sudah harapan timnya. Di sini anak-anak belajar kalau hidup itu nggak bisa sendirian. Mau tidak mau, mereka dituntut membangun kekompakan. Ini lebih natural, ketimbang tugas kelompok yang biasanya berakhir cuma satu orang yang kerja, sisanya numpang nama. Iya gak sih?

Ketiga, lomba di sekolah merupakan latihan mental. Gini deh, coba kalian  bayangkan jadi peserta lomba makan kerupuk, disoraki satu sekolah, mulai dari dia sang idola sampai dia yang kemarin adu mulut, dengan mulut megap-megap, tapi tetap harus fokus mengunyah. Itu melatih keberanian tampil di depan umum, guys. Kalau sudah terbiasa ditonton saat mulut belepotan minyak gorengan, presentasi skripsi di depan dosen nanti jadi serasa makan kerupuk, eh, kelihatan sepele gitu.

Dan yang tak kalah penting, lomba-lomba ini juga membangun kebersamaan. Mungkin di kelas sehari-hari ada geng pinter, geng tukang tidur, geng tukang jajan. Tapi saat lomba berlangsung, semua bisa ketawa bareng. Guru pun ikut cair, nggak melulu jadi sosok serius yang tugasnya nagih tugas.

Jadi, kalau ada orang yang menganggap lomba sekolah cuma hura-hura memperingati kemerdekaan, jelas keliru! Justru di situlah pendidikan karakter paling “merakyat dan bermakna” terjadi, sportivitas, kerja tim, mental baja, sampai rasa kebersamaan. Semua dikemas dengan tawa, bukan dengan tumpukan modul, tugas atau lembar kerja siswa.

Lomba masukin sedotan ke dalam botol memang tidak masuk kurikulum resmi, tapi kadang justru di situlah anak-anak belajar hal yang paling penting dalam hidup: jatuh, bangkit, dan tetap ketawa.

 


Biodata Penulis:
It’s me, tinggal di Lumajang. Mengajar sambil menulis opini receh tentang pendidikan, agar terlihat serius padahal hatinya tetap bocah 17-an alias haha hihi


Guru Itu Beban Negara, DPR Itu Bebek Bertelur Emas

 

https://id.pngtree.com

"Guru itu beban negara." Katanya. Sementara di gedung lain, ada bapak-ibu terhormat yang gajinya naik jadi 3 juta per hari, tanpa perlu bikin RPP atau disuruh piket jaga gerbang. Kalau guru dianggap membebani APBN, mungkin solusinya sederhana, jadikan saja guru anggota DPR. Minimal biar kami bisa menikmati uang rakyat tanpa harus ngoreksi ulangan sambil begadang, tanpa harus mikirin cara ngajar untuk anak-anak yang patah hati karena orang tua, tanpa harus berangkat pagi sambil nitipin anak ke mbahnya karena gak mampu bayar baby sister.

Lucunya, guru yang digaji pas-pasan dianggap tidak produktif karena terus menyedot anggaran. Padahal mereka setiap hari memproduksi generasi, mengajar sopan santun, bahkan jadi satpam sekaligus petugas kebersihan darurat. Di sisi lain, anggota DPR yang tersayang produktifnya apa? Produksi revisi UU yang bikin rakyat kening berkerut, itu pun kadang hasil copy paste.

Kalau dihitung, 3 juta per hari berarti 90 juta per bulan, hampir 100 juta per bulan. Itu belum tunjangan rapat, tunjangan reses, dan tunjangan beli pulpen - eh, mungkin bukan pulpen, tapi tanda tangan kontrak proyek. Guru? Kadang masih beli spidol whiteboard pakai uang sendiri. Maka kalau negara merasa terbebani, Ayo Pak Bu DPR kita tukar peran sebentar saja. Guru dapat 3 juta per hari, DPR disuruh ngajar matematika ke anak-anak kelas 7 sambil disuruh bikin laporan BOS, yang komplit dengan aturan-aturannya. O iya, sekalian menyiapkan berkas serta menyelesaikan aplikasi online guru dan BOS, jadi operator juga gitu maksud saya. Kita lihat siapa yang pertama kali bilang "ini beban hidup".

Sebagai rakyat biasa, kami cuma bisa tertawa miris. DPR kerja sebentar, gaji besar. Guru kerja seumur hidup, dibilang beban. Kalau gitu kami usul, pak Menteri, biar adil, sebut saja DPR itu 'aset negara', guru 'beban negara', dan rakyat? Hmm… mungkin 'korban negara'. Tapi jangan khawatir, kami tetap cinta NKRI, walau kadang alasannya cuma karena nggak punya duit buat pindah negara.

Jadi, kalau negara masih tega menyebut guru beban, mungkin negara perlu terapi empati. Cobalah sehari hidup sebagai guru honorer: masuk kelas pakai sepeda butut cicilan pula, gaji cair tiga bulan sekali, disuruh ikut pelatihan online pakai kuota sendiri. Setelah itu, mungkin mereka akan sadar bahwa beban negara bukanlah guru, melainkan sistem yang lebih menghargai kursi rapat daripada kursi kelas.

Demikian opini receh ini, semoga bisa jadi bacaan ringan saat DPR sedang menghitung uang harian mereka sambil menyeruput kopi di ruang ber-AC. Guru tetap bertahan dengan senyum, meski kadang gaji tak sehangat mie instan akhir bulan.

Senin, 18 Agustus 2025

Perbedaan Pendidikan Zaman Dulu vs Sekarang Dari Kapur Tulis sampai Google Classroom

 

Sumber Gambar : https://id.pngtree.com

Ada yang bilang, sekolah zaman dulu itu keras, tapi berhasil mencetak generasi tangguh. Ada juga yang bilang, sekolah zaman sekarang itu serba canggih, tapi bikin murid gampang stres gara-gara notifikasi tugas dari Google Classroom masuknya jam 10 malam. Kalau dulu murid telat bangun, hukumannya lari keliling lapangan sambil nyanyi “Hari Kemerdekaan”, sekarang telat bangun bisa tetap ikut kelas—asal koneksi internet kuat dan wajah masih kelihatan segar di Zoom. Jadi teringat masa covid ya guys. Ada juga sih yang bilang, kalau sekolah dulu, lulusannya ibarat HP Nokia, mau dilempar, dibanting, tetap utuh. Lulusan sekarang ibarat android, harus bermain halus, supaya gak retak.

Pendidikan memang kayak tren fashion, berubah sesuai zaman. Dulu, guru datang ke kelas cuma bawa kapur tulis dan buku paket yang fotokopiannya buram, sekarang guru bisa bawa laptop, proyektor, bahkan mood buster berupa meme lucu, parahnya lagi meme wajah gurunya, guru gokil banget ya. Tapi pertanyaannya, lebih enak yang mana, Pendidikan zaman dulu atau sekarang? Yuk, kita coba tengok ke dalam pendidikan ya guys. Siap-siap yang pernah sekolah di zaman 80-an, pasti pada cengar-cengir.

1.      Metode Belajar

Dari Ceramah ke Interaktif Digital
Zaman dulu, metode belajar itu sederhana: guru bicara, murid mencatat, lalu pulang bawa PR setumpuk. Interaksi yang paling “heboh” biasanya cuma saat guru menunjuk murid untuk maju ke depan mengerjakan soal. Sekarang, metode belajar jauh lebih interaktif ada presentasi, video pembelajaran, kuis online, bahkan kelas pakai game seperti Kahoot.
Bedanya, kalau dulu yang bikin keringat dingin adalah saat diminta baca keras-keras di depan kelas, sekarang keringat dingin datang saat koneksi Zoom mulai unstable pas lagi presentasi.

2.      Teknologi

Dari Kapur Tulis ke Layar Sentuh
Dulu, papan tulis dan kapur adalah pasangan sakral. Debu kapur yang nempel di baju guru sudah jadi bagian dari “seragam” harian. Murid belajar dengan buku tulis, pena, pensil, jangka, penggaris pake komplit masuk dalam kotak pensil, hmmm.
Sekarang, semuanya serba layar sentuh. Murid bisa belajar lewat YouTube, nyari materi lewat Google, dan nyatet di tablet. Kelebihannya, materi bisa diakses kapan saja. Kekurangannya, kadang malah nyasar nonton video kucing lucu, pas lagi cari referensi tugas.

3.      Hubungan Guru-Murid

Dari Formal ke Lebih Akrab
Guru zaman dulu biasanya punya “aura” wibawa yang bikin murid langsung tegak begitu beliau masuk kelas. Suara hentakan sepatu bikin hati dag dig dug, apalagi pas ujian. Eh, ada lagi nih, ada juga guru-guru yang suka ngasih soal Tanya jawab pas baru masuk di jam pelajarannya, yang gak bisa jawab bisa dapat cubitan guys, cubitan sih bisa ilang sakitnya, malunya itu guys sampe sekarang, hehe. Kemudian komunikasi cenderung formal, jarang bercanda di jam pelajaran.
Nah kalo sekarang, banyak guru yang jadi “teman” murid. Mereka aktif di media sosial, suka balas DM murid, bahkan kadang ikut tren TikTok. Tapi hati-hati, terlalu akrab juga bisa bikin batas profesional jadi kabur.

4.      Tantangan

Dari Kurangnya Akses ke Terlalu Banyak Pilihan
Kalau dulu tantangannya adalah akses pendidikan yang terbatas, buku mahal, sekolah jauh, fasilitas minim. Sekarang tantangannya justru kebanyakan pilihan. Saking banyaknya informasi, murid kadang bingung mana yang benar, mana yang hoaks.

Nah itu dalamnya pendidikan yang bisa kita tengok ya, mungkin masih banyak lagi perbedaan yang gak terkuak di sini. Tapi yang perlu diingat, mau zaman dulu, mau zaman sekarang, sekolah itu sama-sama punya PR: bikin anak betah belajar dan tumbuh jadi manusia yang waras. Bedanya cuma di dramanya. Kalau dulu dramanya rebutan penghapus papan tulis, sekarang dramanya rebutan sinyal. Dulu guru marah karena PR nggak dikerjakan, sekarang guru marah karena link Google Form nggak dibuka. Intinya sih, pendidikan akan selalu berubah, yang nggak boleh berubah cuma satu, kita jangan sampai lebih sibuk membandingkan masa lalu dan masa kini, sampai lupa memikirkan masa depan. Sibuk membandingkan malah stagnan. Yuk melangkah untuk masa depan lebih baik.


Minggu, 06 Oktober 2024

KEINGINAN JELANG TIDUR

 




Jangan tanya ya, kenapa? Karena mata sebenarnya tinggal 5 Watt tapi keinginan masih 100 persen. 

Dan entah dari mana, saat ini butuh sekali 3 barang itu. 

Bismillah, Allohumma sholli Aala sayyidina Muhammad, kuasa Alloh SWT, Insyaallah atas ijinnya, aku besok akan dapat kabar gembira dan dapat apa yang aku inginkan, aamiin 

Sabtu, 05 Maret 2022

SYAITHON

 "Tugas syaithon adalah menggoda manusia hingga ia tergelincir kepada jalan-jalan yang tidak diridhoi oleh Alloh SWT. Nah, kalau tugas syaithon sekedar menggoda sementara pelaksana dari godaan syaithon adalah manusia. Maka manusia bisa disebut adalah BAPAKnya syaithon." Ustadz Danu

Jleb banget bukan? ternyata jika kita tergoda dan melaksanakan godaan syaithon, maka kita lebih parah dari syaithon. 

Semoga kita dilindungi dari godaan syaithon ya ... Aamiin

Jumat, 18 Februari 2022

SALAH PILIH

 


Salah pilih? Pernahkah Anda merasa salah pilih? Sering ... Hahaha. Dan merasa salah pilih biasanya akan muncul ketika hati sedang tidak sehat ya ...

Banyak kebaikan yang akan kita temui jika benar benar kita mencari kebaikan. Namun sebaliknya, jika yang diamati adalah yang tidak baik maka itulah yang didapat. Dan akhirnya, jadi serasa salah pilih. 

Jadi fokus pada kebaikan, supaya

Rabu, 16 Februari 2022

ALASAN

 

Foto : Depan masjid KH. Hamid Pasuruan

Foto diambil setelah kegiatan silaturahmi ke rumah salah satu keluarga besar yang kami anggap kaya dari segi finansial. Ternyata, iya emang mereka sangat kaya. Alhamdulillah, semoga Rizqi mereka senantiasa melimpah dan berkah. Aamiin

Terlepas dari kekayaan mereka, ada alasan yang kuat bagi kami untuk hadir di tengah-tengah mereka. Yang jika diukur jarak, Lumajang Pasuruan lumayan tidak dekat. Apalagi sepulang dari sana, badan greges mulai hadir dalam diri kami. Ada alasan yang kuat, ada tujuan mulia di dalamnya. Hingga semangat kami berangkat.

Alasan tidak bisa dilepas dari kehidupan kita bahkan siapapun juga. Dengan alasan, kita mampu bangkit semangat. Dengan alasan, bisa juga kita jauh dari semangat. Bahkan dengan alasan pula, manusia akan menjadi terhormat, mulia. Dengan alasan, manusia bisa menjadi tidak mulia.

Alasan akan setia dalam mendampingi kita menjalani alur kehidupan. Hanya kita lah yang harus mampu, menempatkan alasan di tempat yang tepat hingga alasan itu membuahkan kebaikan buat kita dan orang sekitar.

Selamat berkarya

Minggu, 16 Januari 2022

Penantian

Menanti kabar gembira yang diharapkan bagaikan menanti kabar dari sang kekasih yang lama tak bersua

Rabu, 08 September 2021

Rabu, 8 September 2021

Sedikit catatan untuk pengingat. Lain waktu akan diulas lebih lama disini

catatan hari ini :

1. Keegoan yang menutup rasa kemanusiaan. Tidak memanusiakan manusia. Dengan membawa kata umik (ibu seorang Bu Nyai) maka semua apa kata BOS. Mengganti dengan waktu konfirmasi satu menit. TAKTIK! (USTADZAH ANA)

2. Kenyataan belum sesuai harapan. Berharap bisa mengantar pulang anak-anak tepat waktu ternyata karet hingga dua jam setengah... Oh! (ANANG)

3. Berbincang sekedar untuk menjawab. Sambil menunggu jemputan yang dinanti. Bincang-bincang sekaligus taaruf ternyata sekedar di mulut saja. Diluar sana, engkau marah...Ah!(DIMAS)

Minggu, 05 September 2021

Sendiri-sendiri

Hari ini, 5 September 2021. Ada rasa yang tak bisa dipendam. Ada rasa yang yang yang tak bisa diam. "Kewajiban suami adalah menafkahi keluarga, jika tidak mampu maka lebih baik hidup sendiri-sendiri", kalimat yang terucap dari lisan seorang istri yang telah berusaha bersikap sabar. Kesabaran yang ternyata tak bisa bertahan karena tuntutan hidup yang kian meronta. 

Tuntutan hidup yang kian meronta seakan menutup rapat tabir bagaimana dengan hak seorang anak. Iya, buah hati kami. Dia punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah maupun bundanya. Tapi, iya sekali lagi ... Istri bukanlah suatu makhluk yang sempurna. Dalam arti, dia menjadi seorang ibu, istri, wanita karir yang kemudian juga menjadi tulang punggung keluarga. Jika memang demikian, sangatlah tidak ringan tugas nya. Jika demikian, lalu dimanakah peran seorang suami? Jika demikian yang terjadi, salahkah seorang istri menuntut cerai kepada suaminya. Jika demikian itu, salahkah seorang Bunda ingin mendidik putra semata wayangnya seorang diri?

Jika ditanya, adakah rasa cinta sama suami? Pastinya ada, tapi hitungannya sangat kecil dibandingkan dengan tuntutan hidup. Jikalau suami tak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, lalu dimanakah kebahagiaan sang istri. Istri bahagia akan ada anak yang HEBAT.

Salam dari aku, istri yang hari ini berani berucap dengan mata berurai air mata 

Senin, 23 Agustus 2021

PEMBINA ALA ANDA

Bu, Jika Anda adalah pembina dan kami adalah binaan. Lebih tepatnya, saya adalah binaan Anda. Maka binalah saya tanpa harus emosi. Binalah saya dengan berhusnudzon. Saya adalah orang baru di bidang saya. Saya butuh bimbingan bukan amarah. Saya butuh support bukan ungkitan kesalahan yang lalu. Saya baru menjabat  secara PJS 3 bulan. Dan resmi selama 6 bulan. Kalimat yang Anda ucapkan seperti saya sudah menjabat bertahun-tahun. Mana peran Anda sebagai pembina? 

Sebagai pembina, Anda sendiri yang menyebut dalam rapat kemarin, sabtu 21 Agustus 2021. Sadar atau tidak, itulah kata yang menancap di otak saya. Karena itu pula mungkin yang menjadi alasan, Anda tidak mau masuk ke ruangan kantor. Iya, sebagai pembina akan datang jika diundang dan diperlukan. Perlu diingat, secara struktural Anda adalah bawahan saya. Dan Anda dibayar karena kerja Anda. Bukan sebagai penasehat. Kerja! sudah tentu harus masuk kantor, meski sekedar bersapa dengan teman sejawat. Sekali lagi, Anda dibayar karena kerja Anda. Jika bekerja tidak sesuai dengan aturan yang ada, silahkan bebas bersikap. Tapi Demi Alloh ... saya tidak Ridho dengan sikap Anda. Sekali lagi sebagai pimpinan, saya tidak Ridho!

Iya, tempat bekerja Anda. Tempat Anda mendapatkan rizqi adalah milik Mertua Anda. Tapi bukan berarti ANda bersikap semaunya sendiri. Its oke, dimata Anda saya adalah orang yang banyak berhutang budi kepada Anda. Semua jabatan dan rizki yang berlimpah terdapat peran Anda. Iya, ada tanda tangan yang memang menunjang semuanya. Tapi saya pun mendapatkan tanda tangan Anda  dengan keringat yang deras. Air mata yang jarang Anda pedulikan. Sering hati tercabik karena kalimat Anda yang pedas. 

Sekarang, saya adalah pimpinan Anda. Maka jika saya diam bukan berarti saya ridho. Semuanya ada balasan. Saya tak berhak membalas sikap Anda. Hanya Alloh SWT yang akan menangani Anda. Oke ... Terima kasih!

Halo para reader! Rangkaian kalimat diatas merupakan curhatan seorang pemimpin baru. Pemimpin baru hasil dari perpecahan senior yang notabene para pembesar agamis dan berdarah biru. Ini merupakan luapan emosi yang tak mampu tertuang di dunia nyata. Karena sadar betul, si curhater adalah seorang plegmatis. CINTA DAMAI.

Rabu, 11 Agustus 2021

Kamis, 12 Agustus 2021

Menjadi seorang pemimpin tak gampang. Mengendalikan patner bukanlah tugas seorang pemimpin. Pemimpin hanyalah menyatukan suara, pendapat sehingga menjadi tim yang solid. Jika ada patner yang suara tak satu. Sometime mereka bersuara A, lain waktu mereka bersuara B tentu sangat menyiksa batin pemimpin. Dan pastinya apa yang telah tersampai belum menyatu dan terpatri dalam diri mereka, sang patner. Maka berpasrahlah dan serahkan patner Anda kepada Alloh SWT. Sabar dan teruslah perbanyak sholat. Sampaikan kepada Alloh SWT apa yang menjadi gundah gulana di anatara hubunganmu dengan mereka. Alloh Maha Melihat. Maha Mengetahui. Tetaplah semangat ... Kembalikan pada tujuan awal bahwa engkau berjuang untuk anak-anak, generasi penerus islam, generasi penerus bangsa.

Selasa, 15 Juni 2021

Hati yang tak sehat

Hati yang tak sehat maka semua yang ada di depannya akan terlihat tidak baik. Hati yang tak sehat akan menghasilkan kata kata yang tidak baik pula. Sehingga tak jarang orang lain akan merasa tersakiti oleh seseorang yang memiliki hati tak sehat. 

Orang lain yang tersakiti karena ucapan lesan tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan bisa jadi kata kata yang dia dengar akan membuat luka yang amat dalam.  Luka yang akan dia bawa hingga akhirnya tidak mudah memaafkan. 

Maka jaga hati kita, bahagiakan hati terlebih dahulu. Setelah itu bercengkrama dengan orang lain ...

Nasehat untuk saya pribadi ... Salam santun


Senin, 31 Mei 2021

BERHARAP

Berharap sering kali salah tempat. Kali ini pun, saat pikiran full dan dominan mikir si dia yang always mendampingi hidupku, eh malah sepertinya dia cuek banget sama aku. Ah, suamiku ... Aku belum paham bahasa cintamu

Minggu, 30 Mei 2021

BAGI BAGI

Bagi bagi ... Ayuk kita bagi bagi! Eits, bukan bagi bagi kue ya ... Melainkan bagi bagi tugas. Dengan berbagi tugas maka tugas akan lebih ringan. Dan pastinya lebih teratur dan bisa selesai tepat waktu. Tentu saja, dengan selalu memperhatikan tupoksi masing-masing. 

Setelah itu, ajak teman atau pantner kerja untuk bisa melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. 

Rabu, 19 Mei 2021

JIWA SOSIAL

Idul Fitri 1442 H, hari ini merupakan hari ketujuh berlebaran. Meski begitu, tak menyurutkan langkah kami untuk terus bersilaturrohmi ke sanak saudara dan teman. Entah apa sebab, lebaran kali ini serasa semangat sekali untuk unjung-unjung. Yang pasti ketika berada di jalan, berbincang santai dan tertawa lepas benar-benar melepas segala pikiran yang lumayan mengganjal. Bisa dibilang, silaturrohim kali ini benar-benar refreshing yang mantap.

Dari satu rumah ke rumah lain, dari topik satu ke topik lain, ada satu topik pembicaraan yang mengena sekali. Hingga kepikiran sampai rumah. Dan tak sabar menuliskannya di blog ini. Yakni tentang jiwa sosial salah satu saudara kami. Iya, dari ceritanya, ku simpulkan dia adalah aktivis sosial. Bagaimana tidak, pagi sebagai kepala PAUD. Sore hari mengajar mengaji di rumahnya. Dan setiap tiga bulan sekali ada rutinitas donor darah. Enjoy... itu yang aku amati. Dia menjalani hidup dengan nikmat. Semuanya berjalan tanpa harus perhitungan dengan angka rupiah. Sepertinya, itulah salah satu sebab rezekinya mengalir bak air sungai.

Tak dipungkiri, sepasang suami istri yang ada di cerita tersebut memang berasal dari keluarga berada. Berasal dari keluarga yang secara ekonomi sudah mapan. Tapi kembali lagi, bermodal sebesar apapun jika pemegang tak mampu mengendalikannya maka tak akan pernah bertambah. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Rezki memang sudah tertakar. Namun tak ada yang tahu berapa takaran rezeki untuk kita. Yang perlu diketahui adalah semakin banyak mengeluarkan untuk membahagiakan orang lain maka bersamaan itu pula rezeki akan masuk ke diri dan keluarga kita.

Oleh karena itu, berbagi itu sangat penting. Berbagi tidak harus bentuk rupiah. Apapun yang bisa kita berikan, maka bagikan. Dan terpenting lagi, keikhlasan tanpa peduli dengan rupiah, sangat berdampak buat diri kita. Tak hanya itu, semua kebaikan yang kita tabur maka kebaikan pula yang akan kita panen.

Yuk selamat idul fitri 1442 H berarti semangat untuk berbagi. Salam Minal Aidin Wal Faizin, Taqobbalallohu Minna Waminkum Taqobbal Ya Kariim


Jumat, 14 Mei 2021

KEMENANGAN 1442 H

 KEMENANGAN 1442 H

Sebulan lamanya Alloh SWT menguji dengan kekurangan ekonomi. Suami tak memberi uang belanja selama 29 hari. Sekali memberi uang belanja dan itu pun sebanyak 20 ribu. Keluarga merupakan keluarga besar. Ada orang tua kandung dan keluarga kecil kami. Alhamdulillah, kekuatan dan kekayaan Alloh SWT telah terbukti pada romadhan tahun ini. Kami mampu melewati semuanya, dan Bissmillah semoga Alloh berkenan memberi kemampuan pada kesempatan berikutnya

Selasa, 20 April 2021

Lelah

Ketika lelah dengan beraneka perjuangan, akan sangat melelahkan dan bertambah sakit rasanya jika ada yang menyalahkan diri. Apalagi yang menyalahkan adalah pasangan sendiri. Dan perjuangan yang telah terajut buat pasangan tercinta. Seakan di tak menghargai lelah dan hati ini.

Disini setia dan cinta buat sang buah hati teruji. Andai ini hati bukan buatan Alloh SWT maka berpisah adalah pilihan terbaik. Buat apa mempertahankan dia yang tidak pernah menghargai jerih payah kita selama ini.

Beban Administrasi, Ketika Guru di Sekolah Swasta Jadi Serba Bisa

  Ada satu istilah klasik yang sering banget kita dengar, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa . Manis di telinga, tapi getir di hati. Apal...